Proses Panjang Mengurus Benda Kecil Bernama PASPOR

Kalian tahu paspor, kan? Ya, dokumen yang wajib dimiliki untuk melakukan perjalanan internasional.

Oh iya, saya seorang mahasiswi Kebidanan semester 6. Bisa dibilang, ini adalah semester dengan jumlah matakuliah tersedikit. Hanya dua dengan beban 11 SKS; 8 untuk Praktik Kebidanan Komprehensif (include dengan kegiatan P-AKK II atau Study Tour); dan 3 untuk LTA (Laporan Tugas Akhir).

Matkul poin pertama, study tour, ini yang membuat saya akhirnya harus berurusan dengan Kantor Dinas Dukcapil dan Kantor Imigrasi.

Fyi, sejak imbauan perekaman e-KTP beredar di seluruh Indonesia tahun 2016 lalu, yang katanya batas akhir perekaman September 2016, pemerintah dengan tegas menutup akses untuk pengurusan administrasi kependudukan (termasuk pembuatan paspor) bagi yang masih menggunakan KTP non elektronik.

Jadiiii, jangan coba-coba datang ke kantor imigrasi manapun jika masih menggunakan KTP non elektronik atau berkasmu akan dipulangkan sama petugasnya:D

Kabar buruknya, saya salah satu dari jutaan penduduk Indonesia yang bandel belum memegang e-KTP 😀 dan kabar baiknya, ternyata perekaman bisa dilakukan di seluruh Indonesia tanpa harus kembali ke domisili asal dimana nama kita terdaftar. Seperti saya yang sedang kuliah di Makassar dan nama saya terdaftar di database kependudukan Mimika (Papua) ingin melakukan perekaman e-KTP, maka saya tidak perlu terbang jauh-jauh ke Timika hanya untuk perekaman e-KTP, melainkan bisa melakukan perekaman di kantor Dinas Dukcapil Kota Makassar, yey. Saya sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah yang satu ini. Minusnya adalah saya tidak bisa menerima langsung e-KTP atau surat keterangan pengganti e-KTP dari tempat saya merekam (Makassar), saya tetap harus meminta bantuan keluarga di Timika untuk masalah ini.

Setelah 7 kali bolak-balik kantor Dukcapil selama 3 minggu, dan meminta Ibu untuk mengambil berkas saya di Kantor Dukcapil Mimika, tanggal 14 Maret 2017, akhirnya saya menerima selembar kertas superpenting bertuliskan ‘Surat Keterangan Pengganti e-KTP’. Alhamdulillah.

IMG_4260.JPG

Tidak. Tidak. Belum selesai sampai di situ, saya harus berurusan lagi dengan kantor Imigrasi.

Keesokan harinya, saya dengan beberapa teman sudah janjian akan mengurus paspor. Hari itu saya shift pagi di Puskesmas, tapi sehari sebelumnya saya bernegosiasi dengan pembimbing lahan di Puskesmas, saya diberi kebijakan datang 2 jam  30 menit lebih lambat dari biasanya.

“Cuma 2 jam, Bidan. Insya Allah cepat selesainya. Paling lambat setengah 10 saya sudah di sini”

“Kamu tidak akan kembali secepat itu, urus paspor itu lama.”

“Tidak, bu. Insya Allah”

“Yasudah, kamu boleh pergi”

Sekali lagi, alhamdulillah urusan ini ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Percaya tidak? Sebelum saya benar-benar berdiri di hadapan pembimbing saya, ada banyak sekali rangkaian kalimat yang saya buat, tapi tidak satu pun terpakai, apa yang saya ucapkan, keluar begitu saja. Jauh dari yang sudah dirancang rapih-rapih.

Malam harinya saya langsung menyiapkan berkas yang diperlukan. Kalian yang ingin mengurus paspor, pastikan punya dokumen-dokumen ini :

  1. KTP Elektronik (e-KTP) atau Surat Keterangan Pengganti e-KTP asli dan fotocopy 1 lembar
  2. Kartu Keluarga (KK) ASLI dan fotocopy 1 lembar
  3. Akte Kelahiran atau Ijazah (pilih salah satu) fotocopy 1 lembar
  4. Surat rekomendasi (Opsional) : misalnya surat rekomendasi dari institusi, atau surat rekomendasi pelaut, dll.

Saya sarankan untuk membawa dokumen yang asli terutama KTP dan KK, karena petugas tidak akan menerima fotocopy KTP dan KK kecuali telah dilegalisir secara resmi.

Apa lagi yang harus disiapkan selain dokumen? Berikut beberapa tips penting yang sering terlupakan

  1. Tidur lebih awal supaya nggak telat bangun (kecuali ada teman yang berbaik hati mengambilkan nomor antrian)
  2. Pastikan kamu tahu lokasinya, jangan sampai nyasar nanti.
  3. Sarapan sebelum berangkat
  4. Pakai pakaian yang rapih, jangan menggunakan kemeja ataupun jilbab putih (karena latar fotonya warna putih)
  5. Pastikan tidak ada yang bermasalah di berkasmu, seperti kecocokan nama, tanggal lahir, RT/RW, dll.

***

Rabu, 15 Maret 2017 

Kantor Imigrasi Kelas I Kota Makassar

Pukul 06.27, sepagi itu saya sudah menginjakkan kaki di kantor imigrasi. Jam segitu emangnya kantor imigrasi sudah buka? Ya, tapi pelayanan dimulai pukul 07.30. jangan salah, walaupun pelayanan akan dimulai 1 jam lagi, kursi tunggu di lobi kantor imigrasi tersebut sudah dipenuhi puluhan orang yang sama tujuannya seperti kami, membuat paspor. Kalau tidak ada teman saya yang rela datang lebih pagi, mungkin saya tidak akan mendapat nomor antrian 15.

“nomor antrian 1-50 silahkan menunggu di dalam” Petugas di bagian customer care berseru di depan pintu. Kami bergantian masuk.

Satu persatu nama dipanggil sesuai nomor urut. Percaya atau tidak, saat duduk di kursi tunggu di dalam ruangan itu, hati saya degdegan bukan main, lebih degdegan daripada saat berpapasan dengan orang yang kita jatuhcintai diam-diam. Aduh, bagaimana kalau ditolak? Mengingat ada perbedaan nama antara di KK dan KTP dengan di Ijazah dan Akte Kelahiran. Hanya satu huruf memang, tapi akan panjang urusannya jika sudah di kantor imigrasi.

“Izmi Almira”

“Iya” saya menyahut dan menghampiri petugas di customer care dengan hati yang berdegup semakin kencang. Bismillah.

“Mimika? Jauh sekali” kata petugas itu saat memeriksa berkas yang saya berikan

Tidak heran lagi, petugas manapun yang melihat berkas saya juga pernah mengatakan hal yang sama.

“Ini namanya pakai S atau Z?”

Tuhkaaan, saya bergumam dalam hati

“Ehh, Z pak. Tapi data di KK yang salah, jadinya KTP saya mengikut pakai S”

“Waah, ini yang biasa bermasalah.” Kata petugas

Bapak-bapak di samping saya yang berkasnya lebih dulu ditolak senyum-senyum ngeliatin saya. “Pasti nasib kita bakalan sama” mungkin batinnya ngomong begitu

“Begini saja, masih ada keluarga di Timika?”

“Masih, pak. Orang tua saya d sana.”

“Bagus. Kalau begitu saya loloskan berkasmu, tapi dengan syarat lampirkan surat keterangan bernama sama saat mengambil paspor. Kalau tidak ada kami tidak bisa keluarkan paspornya”

Saya mengangguk.

Dengan cekatan petugas itu mengumpulkan semua berkas fotocopy dan mengembalikan yang asli kepada saya sekaligus memberikan saya map berisi formulir dan nomor antrian untuk foto dan wawancara. Nomor antrian A005. Berarti ada 10 orang yang berkasnya ditolak karena tidak memenuhi syarat, termasuk 2 teman saya (yang mengambilkan nomor antrian).

Demi menunggu petugas membunyikan bel panggil untuk foto dan wawancara, saya dan satu teman lagi yang berkasnya lolos mengisi formulir tersebut. Tidak lama kemudian terdengar suara bel panggil yang menyebutkan “nomor antrian A001 silahkan ke meja 2”, bel panggil berhenti setelah giliran saya. Saya dan empat lainnya duduk lagi di ruang pengambilan foto dan wawancara.

Hanya butuh waktu sekitar 15 menit mulai dari wawancara sampai perekaman sidik jari, petugas kemudian memberikan slip pengantar untuk membayar administrasinya di bank.

***

Bank BRI KCP Unit Gunung Sari, pukul 09.05 WITA

“Tiga ratus lima puluh ribu rupiah” kata petugas teller dengan ramah

Saya kemudian menyerahkan lembaran uang dan beberapa saat kemudian ditukar dengan print out bukti pembayaran.

“Terima kasih”

Kami melajukan motor masing-masing meninggalkan bank dan berpisah di kapsul pertama, saya mengarah ke kosan teman untuk mengganti baju. Pukul 09.27 menit, saya sudah masuk di Poli KIA Puskesmas, tersenyum simpel yang terselip makna tersirat “Saya tidak telat kan, bu? 3 menit sebelum 09.30”

Urusan paspor sudah selesai, tinggal satu urusan lagi. Terpaksa harus menyibukkan orang lain lagi untuk mengurus ini: surat keterangan bernama sama.

23 Maret 2017

“Halo, assalamualaikum. Saya sudah kirimkan softcopy-nya ke emailmu itu.” Terdengar suara kakak sulung saya di balik telepon

“Oke, nanti saya cek.”

Satu menit kemudian saya mengunduh file yang masuk ke email saya, siap diprint.

001Menuju ke ULP Kantor imigrasi Kelas I. Saya sempat menunggu beberapa menit karena datang di jam istirahat, tapi tidak lama. Oh iya, untuk pengambilan paspor di lantai 2, tapi tetap harus mengambil nomor antrian di customer care lantai 1 dengan memperlihatkan slip pembayaran, petugas akan mengecek status paspor kita. Kemudian memberikan nomor antrian.

Yang perlu diingat, pengambilan paspor baru bisa diakukan 4 hari (tidak termasuk hari libur) setelah pembayaran, paspor boleh diambil lewat dari tanggal tersebut, deadlinenya 30 hari, jika melewati 30 hari maka pengajuan paspor dianggap batal. Kedua, pengambilan paspor TIDAK BISA diwakilkan. Ketiga, khusus Kantor Imigrasi Kelas I Makassar (Jl. Alauddin), loket pengambilan paspor dibuka mulai pukul 10.00-15.00, jadi tidak perlu bangun subuh-subuh untuk mengambil nomor antrian. Kalau tidak mau menunggu, sebaiknya jangan datang di jam istirahat : untuk hari Senin-Kamis 12.00 s/d 13.00 WITA dan 11.30 s/d 13.30 (hari Jumat)

IMG_4435

Tidak kurang dari 15 menit setelah menerima nomor antrian, akhirnya saya menerima paspor itu. Taraaaaa!

IMG_4448

Memang benar, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Ini mutlak. Allah dua kali mengulangnya di dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan ada kemudahan”

Jadi jangan putus asa dulu, apalagi Allah kembali memotivasi kita di 2 ayat terakhir pada surah yang sama : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”

Karena berbagi itu indah. Sharing is caring!

Regards, Izmi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s