Mengenal ‘Pacaran’ Lebih Jauh

danbo_by_ravi435sag-d6gflet.jpg

Pacaran? Hmm. Pacaran itu apa sih? Untuk apa? Harus kah? Kenapa sih orang tua kita suka cerewet tentang hal ini? Termasuk artikel ini. Duh, cerewet sekali.

 

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin membahas pacaran itu apa sih?

Pacaran itu…

Menurut pendapat saya nih : “Hubungan yang dijalin oleh sepasang manusia (perempuan dan laki-laki) yang dilandasi perasaan saling suka dan sifatnya tidak sah dari segi hukum maupun agama”

Menurut pengamatan saya nih, orang yang memilih untuk pacaran itu ternyata punya beragam alasan. Ada yang ingin menjadikan pacar sebagai motivasi belajar (katanya), ada yang mengatakan “ingin mendapatkan kasih sayang, perhatian, dll”, ada yang menjadikannya sebagai ajang untuk mengenal pasangannya lebih dalam sebelum  ke jenjang pernikahan, juga ada yang iseng alias cuma ikut-ikutan, sampai yang paling parah, mencari kesenangan.

Pacaran bisa saling menemani, saling mendukung, berbagi, saling memberi perhatian, waw, terlihat keren. Tapi itu jika dipandang dari kulit-kulitnya saja, yang kelihatan. Padahal di dalamnya? Tidak jarang ada konflik, kesedihan, amarah yang tidak terkendali, kebohongan, galau, banyak sekali.

Mengapa?

Yang pertama, karena menjalani hubungan pacaran itu tidak punya arah dan tujuan yang pasti. Prinsipnya hanya menjalani karena saling suka. Menebar janji-janji untuk masa depan, di satu pihak menanamkan harap. Akhirnya jika tidak ditepati, mengaku telah diPHP-in. Dan ternyata pada akhirnya pasangan kita  berjodoh dengan orang lain, lantas kita berseru-seru tidak terima, marah, frustasi, menangis siang-malam. Bukankah dari awal kita sendiri yang memutuskan untuk membangun hubungan yang tidak pasti itu?

Kedua, hubungan pacaran itu terlalu banyak menuntut, akhirnya membentuk karakter egois dalam diri kita. Memaksa untuk dipenuhi keinginan ini-itu, kalau tidak dipenuhi sakit hati, ngambek. Hei, kita ini siapa sih? Masih banyak urusan mereka yang lebih penting selain meladeni Tuan Putri yang banyak maunya. Lebih parahnya, malah ada yang terbalik, si cewek dituntut untuk dipenuhi keinginan si cowok, misalnya dimasakin, dicucikan pakaiannya, dibayarin makannya, dijagain kalau lagi sakit, dll. Come on girls, be smart!

Nah, jadinya bukan hanya ego saja, tapi menjadi ketergantungan dengan orang lain, bersikap berlebihan.

Ketiga, diikat dengan status pacaran membuat keduanya merasa saling memiliki, mengatur sana-sini, tidak boleh bergaul sama si ini, tidak boleh berteman sama si itu, jangan begini dan begitu. Yaampun, bahkan menikah saja belum? Kenapa harus dipusingi dengan aturan-aturan lebay semacam itu? Katanya “Aku takut kehilangan kamu, jangan tinggalin aku”, lupa bahwa kita ini milik siapa? Tuhan bisa kapan saja mengambil kita, pasangan kita, bahkan selamanya.

Dan masih banyak lagi…

Coba deh dipikir-pikir, kalau pacaran apa-apa pasti maunya ditemani pacar, diantar, trus kapan mandirinya? Hmm, yang lebih serius lagi nih coba ingat-ingat berapa kali kita berbohong selama pacaran? Dari hal-hal kecil misalnya kita ingin selalu terlihat baik di depan pasangan akhirnya berbohong (ini inspirasi dari Ustadz Sudirman) sampai hal besar seperti membohongi orang tua? Nah, yang ini fatal. Terus, berapa banyak waktu yang kita buang untuk telponan, chat-an, sampai meninggalkan kewajiban : shalat dan belajar misalnya? Ada lagi, pikir deh berapa banyak uang yang sudah dia habiskan untuk membeli bahan bakar, mengantar Si Tuan Putri kesana-kemari, membelikan ini-itu? Bagus kalo uang sendiri, kalau uang orang tua? Waduh. Makin meluas dampaknya.

Percaya deh, masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan selain menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia ini.

Pacaran, untuk apa?

Di awal saya sudah sedikit menyinggung beberapa persepsi orang tentang tujuan pacaran ini. Eh, bahkan ada yang mengategorikan pacaran menjadi ‘pacaran serius’ dan ‘pacaran main-main’, ini aneh dan sedikit ‘lucu’. Pacaran itu cuma untuk mereka yang main-main, jadi gak ada namanya pacaran serius. Memang, beberapa pasangan terbukti ada yang mengakhiri hubungan pacarannya dengan pernikahan, tapi yang serius di sini adalah pernikahannya ‘bukan’ pacarannya. Lebih indah itu pacaran setelah nikah, itu baru serius.

Kan nggak mungkin kita menikahi seseorang tanpa mengenal orang tersebut lebih jauh? Kalau tujuan pacaran ‘hanya’ untuk mengenal calon pasangan sebelum dinikahi tanpa ada maksud lain, ini sebenarnya niat baik. Iya benar, mengenal seseorang itu penting sekali, ingin mengetahui hal-hal mendasar seperti namanya, dia hobinya apa, karakternya, keluarganya, boleh saja. Tanpa pacaran juga bisa? Lagian kalau benar-benar niatnya ingin mengenal (untuk dinikahi), masih ada cara lain yang lebih aman (khususnya umat islam) dan yang terpenting mengikuti syariat—ta’aruf. Dengan catatan, tetap mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Perlu diingat, ta’aruf prinsipnya sangat berbeda dengan pacaran, ta’aruf ini juga tidak memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melangkah ke fase selanjutnya—khitbah lalu menikah.

Kalau cinta, gimana?

Cinta seseorang terhadap lawan jenisnya itu perasaan yang sangat manusiawi, boleh-boleh saja asalkan porsinya tepat—tidak berlebihan, apalagi melebihi cinta kita kepada Tuhan. Cinta sendiri ini bersumber dari fitrah-Nya, Sang Maha Cinta. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta dan kasih. Saya yakin semua Agama mengindahkan hal yang satu ini. Pada dasarnya, perasaan cinta adalah suci, tergantung bagaimana kita mengelola cinta itu, menjaganya agar tetap suci atau membiarkannya ternodai? Jika hawa nafsu (syahwat) yang mendominasinya, ini sungguh merusak fitrah cinta.

danbo023.jpg

Kebanyakan dari kita menganggap bahwa cinta harus disalurkan dengan hubungan yang disebut pacaran. Benarkah? Please open your mind! Cinta nggak perlu disalurkan lewat hubungan pacaran, tidak sama sekali. Ada banyak cara untuk mencintai, tergantung masing-masing pribadi, kembali lagi apakah kita ingin menjaga kesucian cinta itu atau justru menodainya? Dua pilihan paling tepat untuk mencintai seseorang yatu, menikahi atau melepaskan. Kalau memang cinta, maka menikah adalah sebuah pilihan yang bijak untuk menyikapinya, juga menjadi pembuktian cinta yang akurat.

Lalu bagaimana kalau belum siap untuk menikah? Belajarlah melepaskan. Menunggu hingga waktu yang tepat tiba, jika memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terungkap.

“Melepaskan dengan tulus sesuatu yang amat kita inginkan tidak selalu berarti kita lemah. Melainkan sebaliknya, kita sangat kuat untuk membiarkan sesuatu itu pergi. Kita sangat kuat untuk meyakini bahwa besok lusa, jika memang berjodoh, pasti akan kembali”
— Tere Liye

Sulit, bukan? Untuk mendapatkan fitrah cinta yang sesungguhnya memang butuh ‘usaha lebih’ dibanding dengan cinta yang sembarangan. Jangan buru-buru merusak jalan ceritanya yang mungkin sebenarnya indah. Meyakini bahwa semua kejadian telah digariskan oleh-Nya, maka kemudahan akan senantiasa mengikuti langkah kaki kita, juga ketenangan hati. Jangan lupa menyibukkan diri untuk terus berbuat kebaikan, menebar manfaat, demi menapaki ribuan anak tangga menuju kebahagiaan. Menjemputnya dengan cara yang Indah.

Kalau akhirnya dia nggak kembali gimana? Sia-sia dong menunggunya? Sederhana saja jawabannya, berarti dia bukan jodoh kita, berarti perubahan baik kita lebih pantas untuk orang lain yang bisa jadi juga sedang memantaskan diri di sana, untuk kita.

Pacaran boleh nggak sih?

Kita telah banyak berbicara tentang pacaran, dilihat dari segi moral dan benefitnya, pacaran sangat tidak dianjurkan. Pacaran membentuk mental yang lemah bagi pelakunya. Lalu, bagaimana jika ditinjau dari hukum agama? Saya akan membahas ini menurut kacamata Islam.

Al-Qur’an dan Hadits secara tegas menolak dan mengharamkan pacaran :

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”
—QS Al-Isra’ : 32

Terkadang ada yang sedikit sensi jika pacaran disandingkan dengan ayat ini, katanya gini “Emang pacaran ngapain? Nggak selamanya pacaran mesum kali!”

Kata zina di sini memang berarti perbuatan yang melanggar aturan dalam Islam, yaitu maaf berhubungan intim dengan pasangan yang belum sah secara hukum agama. Zina di sini bermula dari zina mata, zina hati, zina pikiran, dsb.

Saya tidak pernah mengasumsikan bahwa pacaran adalah melulu berbuat mesum, karena memang ada juga yang berpacaran dan bebas dari perbuatan senonoh ini. Tapi di ayat tersebut Allah menegaskan kita untuk ‘menjauhi’ perbuatan ini, maksudnya adalah pacaran di sini bisa saja menjerumuskan seseorang ke dalam jurang zina, walaupun sebenarnya tidak berniat melakukannya. Karna syaithan akan selalu setia pada janjinya, menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Naudzubillahi min dzalik.

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya”
—HR. Ahmad no 15734

Nah, sudah jelas bukan? Pacaran dalam hukum Islam ini tidak dibolehkan.

Single? It’s okay

Kalau ditanya, saya sendiri pernah pacaran tidak sih? Jawabannya “Ya, pernah”. Haaah?? Iya, tapi itu dulu, sebelum saya banyak belajar. Menyesal? Tentu. Teringat betapa banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia, yang mungkin jika diisi dengan kebaikan akan menghasilkan tumpukan karya. Sewajar-wajarnya hubungan yang saya bangun, secerdas apapun saya membentengi diri saya saat pacaran, tetap saja namanya pacaran, tetap saja Allah tak suka, tetap saja tercatat sebagai keburukan di sisi-Nya. Astagfirullah.

Penyesalan itu bak mengiris-iris hati, meyakitkan sekali. Tapi berlarut-larut di dalamnya, bukan pilihan yang tepat untuk saya lakukan saat ini. Di balik itu saya sangat bersyukur karena telah disadarkan sesadar-sadarnya. Dari sana saya memetik sebuah pelajaran berharga, menjadikan ini sebagai momen yang tepat untuk berbenah diri, belajar dari kesalahan.

“Now, I have to leave you for the shake of ALLAH”

—KDKD

9_Danbo-sang-Seniman.jpg

Tidak mudah awalnya untuk benar-benar meninggalkan zona comfort yang sudah saya bangun. Butuh proses untuk keluar dari sana, butuh perlawanan, sekali lagi ini tidak mudah, menahan diri, mengendalikan perasaan, yang terpenting adalah kesabaran dan kemauan yang kuat. Pelan-pelan saya meluruskan niat, mendekatkan diri kepada-Nya. Everything is hard before it’s easy. Akhirnya, setelah bersusah payah, sisanya akan terasa lebih mudah.

Oh iya, saya merasa lebih baik setelah meninggalkan pacaran. Ini serius, saya bisa merasakan banyak perubahan positif dalam diri saya. Menjadi lebih mandiri, sabar, lebih dewasa, juga tidak ada halangan lagi untuk mengukir prestasi, pun hubungan dengan keluarga, sahabat, dan Tuhan, terasa semakin dekat. Satu lagi, saya masih hidup, kan?

Jadi, bukan berarti jika kita memiliki hari kemarin yang suram, lantas kita tetap diam di sana tanpa melangkah sedikitpun. Boleh saja kita menoleh ke belakang, namun bukan untuk menjadi bagian dari masa lalu itu, melainkan menjadikannya sebagai alaram pengingat bagi kita. Bukankah manusia itu sumber kesalahan dan lupa?

Sudah menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.

Makassar, 29 Oktober 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s