Resensi : Matahari – Tere Liye

sinopsis-novel-matahari-karya-tere-liye

Matahari. Novel ketiga dari serial Bumi ini benar-benar berhasil memikat saya. Menariknya, jika pada kedua buku pendahulunya penulis lebih banyak menonjolkan Raib dan Seli dengan kekuatan yang mereka punya, kini penulis juga banyak mengekspos tokoh Ali. Ini membuat penokohan ketiganya menjadi sama-sama kuat.

Awalnya saya mengira jalan cerita novel ini akan mirip-mirip dengan novel Bumi dan Bulan, tapi ternyata tidak. Matahari banyak memberikan kejutan, ceritanya lebih fresh.

Ali! Kini namanya sedang disebut-sebut oleh anak-anak satu sekolah. Entah kenapa sepulang dari liburan mereka di Klan Matahari, Ali mendadak lihai dalam bermain basket. Padahal sebelumnya? Jangankan prestasi di luar kelas, Ali bahkan selalu dikeluarkan dari ruang kelas karena tidak mengerjakan PR, anak sekelasnya pasti tahu tabiat Ali yang pemalas—lebih tepatnya malas tahu, tidak peduli. Penampilannya pun tidak pernah menarik. Meski dibalik itu, tidak banyak yang tahu, Ali sebenarnya anak yang genius. Tapi kehidupan sekolah baginya sangat membosankan. Ia lebih menyukai basement-nya, tempat ia bebas bereksperimen.

Sejak mengenal dunia paralel, Ali merasa kehidupannya menjadi lebih seru. Berkunjung ke Klan Bulan dan Klan Matahari saja baginya tidak cukup. Ali selalu bersemangat membuka tabung ajaib pemberian Av, berisi segala informasi dan teknologi dari berbagai klan. Ia mencaritahu tentang Klan Bintang—klan terjauh yang pernah ada, bahkan keberadaannya sekarang masih misterius, beberapa menganggapnya telah lenyap. Raib dan Seli tegas menolak ide gila Ali yang ingin mengunjungi Klan Bintang dengan Buku Kehidupan, itu jelas telah melanggar janji Raib kepada Av dan Miss Selena. Tapi bukan Ali namanya jika ia tidak bisa menemukan cara lain mengunjungi klan itu. Ia bahkan menciptakan sebuah kapsul khusus untuk menemani perjalanan mereka ke sana, ILY—begitu ia menyebut kapsul canggih buatannya.

Dengan ILY, Ali berusaha meyakinkan Raib dan Seli. Mereka akan aman berada di dalam kapsul tercanggih gabungan teknologi Klan Bulan dan Klan Matahari itu. Hingga akhirnya mereka benar-benar melakukan perjalanan fisik mengunjungi Klan Bintang melewati lorong-lorong kuno di perut bumi!

Ah menarik sekali!

Siapa sangka, hipotesis Ali ternyata benar. Mereka berhasil menemukan klan dengan peradaban paling maju itu, meski harus melalui berbagai rintangan dalam perjalanannya.

Di Klan Bintang mereka berkenalan dengan beberapa nama baru. Ada Faar pemilik lembah yang ramah, juga merupakan keturunan Klan Bulan. Faar menceritakan banyak hal tentang Klan Bintang. Juga ada Marsekal Laar, adalah sahabat lama Faar, pemimpin salah satu Armada Kota Zaramaraz—Ibu Kota Klan Bintang. Melalui Marsekal Laar, mereka akhirnya tahu  klan ini tidak sedamai yang mereka pikirkan. Dewan Kota memegang penuh kekuasaan di Kota Zaramaraz, mengikat penduduk Klan Bintang dengan ribuan dekritnya, mengendalikan dengan seenaknya.

Selain itu ada Kaar dan Meer, juga sekertaris Dewan Kota yang sama-sama berpengaruh terhadap jalan cerita di novel ini.

“Mereka tidak memiliki misi apapun. Mereka hanya tiga remaja yang rasa ingin tahunya mungkin terlalu tinggi. Tapi mereka jelas tidak berbahaya bagi Klan Bintang”

 

“Tapi aku khawatir, Dewan Kota Zaramaraz tidak akan sependapat soal itu.”

— Matahari (Hal. 209)

Ya. Raib, Seli dan Ali memang tidak datang dengan misi khusus, namun mereka justru   akan membawa pulang misi penting ke klan permukaan.

“Itu berarti perang besar”

 

“Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi, Nak. Kita selalu bisa mengubah jalan cerita dengan ketulusan”

— Matahari (Hal. 389)

***

Membaca novel ini sangat menyenangkan, banyak kejutan yang disajikan dalam ceritanya. Tere Liye selalu pandai merangkai cerita dengan menghadirkan hal-hal unik di dalamnya, juga menghubungkan berbagai kejadian dengan ilmu pengetahuan, membuat novel ini menjadi tidak biasa—sangat menarik. Tema yang telah dibangun sejak awal adalah perihal petualangan, persahabatan, politik, tetap saya temukan dalam novel ini. Bahkan saya ikut berdegup menyimak pertarungan mereka yang semakin seru, taktik menyerang yang berbeda. Raib dan Seli yang semakin kuat, apalagi Ali yang tiba-tiba bisa mengeluarkan petir dan melakukan teleportasi saat bertransformasi menjadi beruang raksasa, benar-benar di luar dugaan. Kisah persahabatan mereka juga makin terasa di novel ini. Semua disajikan dengan bahasa yang ringan, tapi maknanya sangat dalam.

Novel yang ceritanya dibagi ke dalam 30 episode ini, sama seperti kedua novel sebelumnya, saya berhasil membacanya hanya kurang dari 3 hari. Alur berceritanya yang ringan dengan konflik-konfliknya yang tidak terlalu pelik, membuat saya betah mengikutinya sampai akhir.

Latar tempat yang diambil pada awal ceritanya masih di bumi, tempat mereka menjalani kehidupan normal seperti biasanya, barulah pada episode 13 penulis beralih mengambil latar di Klan Bintang.

Menilik dari novel-novel karya Tere Liye yang telah saya baca, ada banyak pesan moral yang disampaikan dari setiap cerita yang disajikan. Tak terkecuali novel Matahari ini. Membuat saya banyak tersugesti dengan hal-hal positif positif setelah membacanya. Juga menjadi banyak belajar, memahami tentang ketulusan, perjuangan dan keberanian.

“Masalah ini memang berat sekali disampaikan, tapi sekali dilakukan, sisanya menjadi ringan. Percayalah.” — Matahari (hal. 68)

Jika pada dua novel pendahulunya saya masih menemukan beberapa kekurangan, di novel ini bahkan saya hampir tidak menemukannya, terlepas dari typo yang masih bertebaran. Sepertinya novel ini cocok dengan judulnya “Matahari” ia menjadi ‘penerang’, sumber cahaya bagi Bumi dan Bulan.

Walaupun ada tajuk kecil di bagian belakang buku ini yang menerangkan bahwa ini novel remaja, saya tetap berasumsi lain.  Umur saya bahkan sudah keluar dari katagori itu, tapi tetap jatuh cinta tuh sama novel serial ini. Pokoknya siapapun harus mencoba sensasi petualangan ketiga sahabat ini, para penjelajah dunia paralel!

Awalnya saya mengira Matahari akan menjadi pentup kisah petualangan mereka, ternyata masih ada Bintang yang menunggu untuk terbit. I can’t wait! Semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bagaimana nasib keempat klan ini selanjutnya?

“Hidup ini adalah petualangan. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik.”—Matahari (Hal. 362)

Judul             : Matahari

Penulis            : Tere Liye

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Terbit             :  Juli 2016

Harga             : 75.000

Ukuran           : 13.5 x 20 cm

Tebal             : 400 hlm

ISBN               :  978-602-03-3211-6

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s