Resensi : Bulan – Tere Liye

novel_bulan__new_cover____tere_liye

Ra, Seli dan Ali telah berualang seru di Klan Bulan, mereka akhirnya bisa menyelamatkan Miss Selena dari sanderaan Tamus. Kemudian melalui Buku Kehidupan (buku matematika Ra), tiga sekawan ini dibawa kembali ke Bumi dengan catatan mereka harus menjalani kehidupan seperti anak normal lainnya sampai Miss Selena kembali dari Klan Bulan.

Mereka disibukkan dengan rutinitas masing-masing, sekolah, mengerjakan tugas-tugas rumah, mengikuti kegiatan Klub Menulis, dan Ali, sibuk dengan penelitian dan alat-alat terbaru buatannya.

Enam bulan berlalu, Miss Selena akhirnya pulang membawa banyak informasi, juga sebuah misi penting yang mengharuskan mereka pergi ke klan Matahari untuk mengadakan diplomasi antara Klan Bulan dan Klan Matahari. Miss Selena, Av, dan Ily ikut serta dalam perjalanan ini.

Tapi di luar dugaan. Setibanya di sana, tepat saat ceremonial pembukaan Festival Bunga Matahari di Kota Ilios, mereka diminta untuk menjadi kontingen ke-10 festival tersebut. Kompetisi menemukan bunga matahari pertama yang mekar—kompetisi paling mematikan Klan Matahari.

Bukan hal mudah, tidak ada yang tahu persis di mana bunga matahari akan mekar. 9 hari ke depan, melawan 9 kontingen lain yang lebih terlatih dan tangguh. Sangat kecil kemungkinan mereka akan menang. Namun demi kelancaran diplomasi antara kedua Klan ini, juga semangat yang tulus, Ra dan kawan-kawan memberanikan diri  mengikuti festival tersebut, anggota mereka bertambah satu, Ily—putra sulung Ilo dan Vey.

Melalui perjalanan yang panjang dan sulit, mereka mengelilingi negeri Klan matahari, menghadapi hewan-hewan buas, burung pemakan daging, melawan monster, melewati ladang jamur beracun, melawan tumpahnya air bah, juga bertarung bersama tikus-tikus raksasa bawah tanah.

9 hari berlalu dengan sangat melelahkan dan penuh suka duka. Bunga itu telah mekar. Festival Bunga Matahari berakhir.

Tapi aku salah besar karena sebenarnya justru “kompetisi yang sesungguhnya” baru saja dimulai—Raib

Ya, di bawah terpaan sinar matahari pagi yang lembut, di tempat bunga matahari itu ditemukan, pertarungan kembali pecah, kali ini melawan ketua konsil Fala-tara-tana IV yang tamak akan kekuasaan.

***

Sudah saya bilang, tidak perlu menunggu setahun lebih untuk membaca sekuel Bumi. Hari ini saya kembali menulis resensi buku kedua dari serial Bumi, Bulan.  Hehe

Setelah menamatkan novel Bumi beberapa hari lalu, dengan endingnya yang menggantung, muncul banyak pertanyaan dalam benak saya. Perihal bagaimana cara mereka kembali ke rumah? Bagaimana tanggapan keluarga mereka setelah menghilang dua hari? Apa misi mereka selanjutnya? Bagaimana dengan Tamus, apa ia bisa keluar dari Penjara Bayangan di Bawah Bayangan? Nah, buku Bulan ini sedikit banyak telah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Di buku kedua ini penulis masih menggunakan sudut pandang yang sama, Raib.. Alurnya runut, meski ritmenya agak lambat. Saya sempat bosan membacanya di pertengahan. Tapi tidak berlangsung lama. Penulis memang pandai menggugah rasa penasaran pembaca, setelah itu banyak disajikan konflik yang membuat saya kembali bersemangat membacanya. Saya berhasil melalap buku setebal 400 halaman ini dalam satu hari.

Jika boleh menilai, minus pada buku ini hanyalah kurangnya penulis mengekspos tokoh Seli. Padahal setting novel kali ini kebanyakan di Klan Matahari, tanah leluhur Seli. Di sini tetap saja penulis menonjolkan tokoh Raib, menjadikannya sebagai kapten kontingen. Menurutku akan lebih seru jika Seli yang menjadi kaptennya. Tapi saya yakin hal ini pasti ada alasannya, mungkin saja penulis tidak ingin mengaburkan karakter tokoh Seli yang sudah dibangun dari novel Bumi.

Selebihnya, novel ini sangat pantas mendapat pujian. Banyak hal-hal unik dan mengejutkan disajikan dalam novel bergenre fantasi ini. Uniknya, cerita yang dibangun dalam novel serial ini bukan hanya imajinasi semata, tapi dapat dijelaskan secara ilmiah, penulis menyampaikan hal ini melalui tokoh Ali.

Juga yang saya suka, ciri khas Tere Liye yang selalu menyelipkan kata-kata bijak di novel-novelnya, sehingga banyak pesan-pesan moral yang didapatkan setelah membaca novel ini, tersirat maupun tersurat.

Kali ini endingnya tidak menggantung sepeti pada novel Bumi. Tapi tetap saja saya penasaran dengan lanjutan ceritanya😂 tanpa jeda, saya langsung membaca novel selanjutnya. Matahari

Judul     : Bulan

Penulis : Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit    :  Maret 2015

Harga    : 74.000

Ukuran : 13.5 x 20 cm

Tebal     : 400 hlm

ISBN      :  978-602-03-3294-9

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s