Proses Panjang Mengurus Benda Kecil Bernama PASPOR

Kalian tahu paspor, kan? Ya, dokumen yang wajib dimiliki untuk melakukan perjalanan internasional.

Oh iya, saya seorang mahasiswi Kebidanan semester 6. Bisa dibilang, ini adalah semester dengan jumlah matakuliah tersedikit. Hanya dua dengan beban 11 SKS; 8 untuk Praktik Kebidanan Komprehensif (include dengan kegiatan P-AKK II atau Study Tour); dan 3 untuk LTA (Laporan Tugas Akhir).

Matkul poin pertama, study tour, ini yang membuat saya akhirnya harus berurusan dengan Kantor Dinas Dukcapil dan Kantor Imigrasi.

Fyi, sejak imbauan perekaman e-KTP beredar di seluruh Indonesia tahun 2016 lalu, yang katanya batas akhir perekaman September 2016, pemerintah dengan tegas menutup akses untuk pengurusan administrasi kependudukan (termasuk pembuatan paspor) bagi yang masih menggunakan KTP non elektronik.

Jadiiii, jangan coba-coba datang ke kantor imigrasi manapun jika masih menggunakan KTP non elektronik atau berkasmu akan dipulangkan sama petugasnya:D

Kabar buruknya, saya salah satu dari jutaan penduduk Indonesia yang bandel belum memegang e-KTP 😀 dan kabar baiknya, ternyata perekaman bisa dilakukan di seluruh Indonesia tanpa harus kembali ke domisili asal dimana nama kita terdaftar. Seperti saya yang sedang kuliah di Makassar dan nama saya terdaftar di database kependudukan Mimika (Papua) ingin melakukan perekaman e-KTP, maka saya tidak perlu terbang jauh-jauh ke Timika hanya untuk perekaman e-KTP, melainkan bisa melakukan perekaman di kantor Dinas Dukcapil Kota Makassar, yey. Saya sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah yang satu ini. Minusnya adalah saya tidak bisa menerima langsung e-KTP atau surat keterangan pengganti e-KTP dari tempat saya merekam (Makassar), saya tetap harus meminta bantuan keluarga di Timika untuk masalah ini.

Setelah 7 kali bolak-balik kantor Dukcapil selama 3 minggu, dan meminta Ibu untuk mengambil berkas saya di Kantor Dukcapil Mimika, tanggal 14 Maret 2017, akhirnya saya menerima selembar kertas superpenting bertuliskan ‘Surat Keterangan Pengganti e-KTP’. Alhamdulillah.

IMG_4260.JPG

Tidak. Tidak. Belum selesai sampai di situ, saya harus berurusan lagi dengan kantor Imigrasi.

Keesokan harinya, saya dengan beberapa teman sudah janjian akan mengurus paspor. Hari itu saya shift pagi di Puskesmas, tapi sehari sebelumnya saya bernegosiasi dengan pembimbing lahan di Puskesmas, saya diberi kebijakan datang 2 jam  30 menit lebih lambat dari biasanya.

“Cuma 2 jam, Bidan. Insya Allah cepat selesainya. Paling lambat setengah 10 saya sudah di sini”

“Kamu tidak akan kembali secepat itu, urus paspor itu lama.”

“Tidak, bu. Insya Allah”

“Yasudah, kamu boleh pergi”

Sekali lagi, alhamdulillah urusan ini ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Percaya tidak? Sebelum saya benar-benar berdiri di hadapan pembimbing saya, ada banyak sekali rangkaian kalimat yang saya buat, tapi tidak satu pun terpakai, apa yang saya ucapkan, keluar begitu saja. Jauh dari yang sudah dirancang rapih-rapih.

Malam harinya saya langsung menyiapkan berkas yang diperlukan. Kalian yang ingin mengurus paspor, pastikan punya dokumen-dokumen ini :

  1. KTP Elektronik (e-KTP) atau Surat Keterangan Pengganti e-KTP asli dan fotocopy 1 lembar
  2. Kartu Keluarga (KK) ASLI dan fotocopy 1 lembar
  3. Akte Kelahiran atau Ijazah (pilih salah satu) fotocopy 1 lembar
  4. Surat rekomendasi (Opsional) : misalnya surat rekomendasi dari institusi, atau surat rekomendasi pelaut, dll.

Saya sarankan untuk membawa dokumen yang asli terutama KTP dan KK, karena petugas tidak akan menerima fotocopy KTP dan KK kecuali telah dilegalisir secara resmi.

Apa lagi yang harus disiapkan selain dokumen? Berikut beberapa tips penting yang sering terlupakan

  1. Tidur lebih awal supaya nggak telat bangun (kecuali ada teman yang berbaik hati mengambilkan nomor antrian)
  2. Pastikan kamu tahu lokasinya, jangan sampai nyasar nanti.
  3. Sarapan sebelum berangkat
  4. Pakai pakaian yang rapih, jangan menggunakan kemeja ataupun jilbab putih (karena latar fotonya warna putih)
  5. Pastikan tidak ada yang bermasalah di berkasmu, seperti kecocokan nama, tanggal lahir, RT/RW, dll.

***

Rabu, 15 Maret 2017 

Kantor Imigrasi Kelas I Kota Makassar

Pukul 06.27, sepagi itu saya sudah menginjakkan kaki di kantor imigrasi. Jam segitu emangnya kantor imigrasi sudah buka? Ya, tapi pelayanan dimulai pukul 07.30. jangan salah, walaupun pelayanan akan dimulai 1 jam lagi, kursi tunggu di lobi kantor imigrasi tersebut sudah dipenuhi puluhan orang yang sama tujuannya seperti kami, membuat paspor. Kalau tidak ada teman saya yang rela datang lebih pagi, mungkin saya tidak akan mendapat nomor antrian 15.

“nomor antrian 1-50 silahkan menunggu di dalam” Petugas di bagian customer care berseru di depan pintu. Kami bergantian masuk.

Satu persatu nama dipanggil sesuai nomor urut. Percaya atau tidak, saat duduk di kursi tunggu di dalam ruangan itu, hati saya degdegan bukan main, lebih degdegan daripada saat berpapasan dengan orang yang kita jatuhcintai diam-diam. Aduh, bagaimana kalau ditolak? Mengingat ada perbedaan nama antara di KK dan KTP dengan di Ijazah dan Akte Kelahiran. Hanya satu huruf memang, tapi akan panjang urusannya jika sudah di kantor imigrasi.

“Izmi Almira”

“Iya” saya menyahut dan menghampiri petugas di customer care dengan hati yang berdegup semakin kencang. Bismillah.

“Mimika? Jauh sekali” kata petugas itu saat memeriksa berkas yang saya berikan

Tidak heran lagi, petugas manapun yang melihat berkas saya juga pernah mengatakan hal yang sama.

“Ini namanya pakai S atau Z?”

Tuhkaaan, saya bergumam dalam hati

“Ehh, Z pak. Tapi data di KK yang salah, jadinya KTP saya mengikut pakai S”

“Waah, ini yang biasa bermasalah.” Kata petugas

Bapak-bapak di samping saya yang berkasnya lebih dulu ditolak senyum-senyum ngeliatin saya. “Pasti nasib kita bakalan sama” mungkin batinnya ngomong begitu

“Begini saja, masih ada keluarga di Timika?”

“Masih, pak. Orang tua saya d sana.”

“Bagus. Kalau begitu saya loloskan berkasmu, tapi dengan syarat lampirkan surat keterangan bernama sama saat mengambil paspor. Kalau tidak ada kami tidak bisa keluarkan paspornya”

Saya mengangguk.

Dengan cekatan petugas itu mengumpulkan semua berkas fotocopy dan mengembalikan yang asli kepada saya sekaligus memberikan saya map berisi formulir dan nomor antrian untuk foto dan wawancara. Nomor antrian A005. Berarti ada 10 orang yang berkasnya ditolak karena tidak memenuhi syarat, termasuk 2 teman saya (yang mengambilkan nomor antrian).

Demi menunggu petugas membunyikan bel panggil untuk foto dan wawancara, saya dan satu teman lagi yang berkasnya lolos mengisi formulir tersebut. Tidak lama kemudian terdengar suara bel panggil yang menyebutkan “nomor antrian A001 silahkan ke meja 2”, bel panggil berhenti setelah giliran saya. Saya dan empat lainnya duduk lagi di ruang pengambilan foto dan wawancara.

Hanya butuh waktu sekitar 15 menit mulai dari wawancara sampai perekaman sidik jari, petugas kemudian memberikan slip pengantar untuk membayar administrasinya di bank.

***

Bank BRI KCP Unit Gunung Sari, pukul 09.05 WITA

“Tiga ratus lima puluh ribu rupiah” kata petugas teller dengan ramah

Saya kemudian menyerahkan lembaran uang dan beberapa saat kemudian ditukar dengan print out bukti pembayaran.

“Terima kasih”

Kami melajukan motor masing-masing meninggalkan bank dan berpisah di kapsul pertama, saya mengarah ke kosan teman untuk mengganti baju. Pukul 09.27 menit, saya sudah masuk di Poli KIA Puskesmas, tersenyum simpel yang terselip makna tersirat “Saya tidak telat kan, bu? 3 menit sebelum 09.30”

Urusan paspor sudah selesai, tinggal satu urusan lagi. Terpaksa harus menyibukkan orang lain lagi untuk mengurus ini: surat keterangan bernama sama.

23 Maret 2017

“Halo, assalamualaikum. Saya sudah kirimkan softcopy-nya ke emailmu itu.” Terdengar suara kakak sulung saya di balik telepon

“Oke, nanti saya cek.”

Satu menit kemudian saya mengunduh file yang masuk ke email saya, siap diprint.

001Menuju ke ULP Kantor imigrasi Kelas I. Saya sempat menunggu beberapa menit karena datang di jam istirahat, tapi tidak lama. Oh iya, untuk pengambilan paspor di lantai 2, tapi tetap harus mengambil nomor antrian di customer care lantai 1 dengan memperlihatkan slip pembayaran, petugas akan mengecek status paspor kita. Kemudian memberikan nomor antrian.

Yang perlu diingat, pengambilan paspor baru bisa diakukan 4 hari (tidak termasuk hari libur) setelah pembayaran, paspor boleh diambil lewat dari tanggal tersebut, deadlinenya 30 hari, jika melewati 30 hari maka pengajuan paspor dianggap batal. Kedua, pengambilan paspor TIDAK BISA diwakilkan. Ketiga, khusus Kantor Imigrasi Kelas I Makassar (Jl. Alauddin), loket pengambilan paspor dibuka mulai pukul 10.00-15.00, jadi tidak perlu bangun subuh-subuh untuk mengambil nomor antrian. Kalau tidak mau menunggu, sebaiknya jangan datang di jam istirahat : untuk hari Senin-Kamis 12.00 s/d 13.00 WITA dan 11.30 s/d 13.30 (hari Jumat)

IMG_4435

Tidak kurang dari 15 menit setelah menerima nomor antrian, akhirnya saya menerima paspor itu. Taraaaaa!

IMG_4448

Memang benar, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Ini mutlak. Allah dua kali mengulangnya di dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan ada kemudahan”

Jadi jangan putus asa dulu, apalagi Allah kembali memotivasi kita di 2 ayat terakhir pada surah yang sama : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”

Karena berbagi itu indah. Sharing is caring!

Regards, Izmi.

Iklan

Ada apa dengan PT. Freeport Indonesia?

tpra_1.jpg

Tembagapura, Kab. Mimika, Papua

Ada apa dengan kota tercinta kami, Timika, Tembagapura? Belakangan ini timeline media sosial saya mendadak ramai dengan isu-isu perusahaan tambang di atas tanah Papua ini. Ada apa dengan PTFI? Sontak pertanyaan itu muncul dalam benak saya. 15 tahun hidup di Kota Timika, tak cukup bagi saya jika hanya membaca berita-berita itu tanpa tergerak untuk mencaritahu lebih jauh. Walaupun sudah beberapa tahun jauh dari kota Timika, tetap saja tidak menyurutkan rasa keingintahuan saya, lebih tepatnya care.

1524750-10202146147948072-796735161-n-55b8d709f47a61c00a53587f

Dengan modal membaca berita-berita  dari beranekaragam sumber, browsing sana sini, juga hasil nanya-nanya ke keluarga dan kerabat di sana, saya menyerap banyak informasi. Secara sederhananya saya simpulkan seperti seperti ini

PTFI, sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di dataran tinggi Kota Timika. Saat ini kegiatan produksi PTFI terganggu sejak larangan ekpor konsentrat mineral (ore) dikeluarkan pemerintah Januari 2017 lalu. Pemerintah akan kembali mengeluarkan izin ekspor dengan syarat PTFI setuju dengan perubahan status dari KK (Kontrak Karya) menjadi IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus), sementara masa kontrak PTFI dan pemerintah seharusnya masih berlangsung hingga 2021. IUPK masih dipertimbangkan oleh PTFI karena terdapat  perubahan aturan di dalamnya. Negosiasi antara pemerintah dan PTFI yang belum memiliki titik terang ini kemudian berimbas pada nasib karyawan PTFI. Nama mereka jatuh di dua kemungkinan, PHK atau dirumahkan.

Nah, itu yang saya bisa simpulkan dengan sangat sederhana. Saya sebagai mahasiswi Kebidanan, nalar saya belum bisa untuk membahas permasalahan ini dari sudut pandang ekonomi, bisnis, hukum, maaf nggak nyampe :’D

Oke fokus ke nasib ribuan karyawan PTFI yang saat ini masih terombang-ambing. Kabarnya, PTFI telah melakukan pengurangan karyawan dan kontaktor secara besar-besaran sejak ekspor ore dihentikan, baik itu dengan jalan diPHK maupun furlough─demi efisiensi perusahaan. Sedih ya, mengingat sebagian besar penduduk Timika, bahkan para pendatang dari seluruh Indonesia selama bertahun-tahun bekerja di sana untuk menghidupi keluarga mereka, terus diPHK. Tentu sangat berdampak pada perekonomian setempat, Indonesia umumnya.

080155920150316-ratusan-pekerja-tambang-ptfi-dari-7-suku-blokade-jalan-tambang780x390

Banyak yang tidak mengetahui, PTFI sebenarnya telah merubah wajah Papua terutama Kota Timika tempat perusahaan ini berdiri. Freeport banyak berkontribusi dalam penyediaan fasilitas umum, seperti pendirian Airport berstandar Internasional (Mozez Kilangin), membangun sekolah-sekolah di pedalaman Papua, Perumahan, Masjid, Gereja, hingga Rumah Sakit.

SONY DSC

kuala-kencana-diresmikan-pada-tanggal-5-desember-1995-dan-mengawali-rencana-perluasan-pemukiman-yang-direncanakan-menjadi-salah-satu-kota-unik-dan-indah-di-indonesia
img_20121123110217_50aef549a2180

Di bidang pendidikan, ribuan anak asli Papua telah, sedang dan akan menikmati beasiswa mulai dari tingkat SLTP sampai Perguruan Tinggi (PT). Sementara di bidang kesehatan, masyarakat suku Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Nduga, Moni dan Mee ata yang disebut dengan masyarakat tujuh suku di Kabupaten Mimika telah menikmati pengobatan gratis pada sejumlah fasilitas kesehatan (salah satunya RSMM) yang dibangun dan dikelola oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) dan dua lembaga sebelumnya.

img_freeportindonesia_asramatarunapapua2.jpg

sumber: ptfi.co.id

150713_img_1.jpg

img_freeportindonesia_lpmak3_id.jpg

Keberadaan PTFI memiliki peran yang besar dalam pembangunan di Indonesia pada tingkat lokal dan nasional. Selain meberikan dana royalty dan pajak kepada pemerintah, PTFI juga memiliki tanggung jawab sosial untuk membangun dan mengembangkan masyarakat lokal disekitar wilayah operasinya.

Tapi masih banyak saja yang sinis dengan perusahaan yang satu ini, kebanyakan hanya bisa berkomentar dan melemparkan opini seenaknya tanpa tahu kondisi yang sebenarnya. Ayo ke Papua biar tau-_-

Back to point, mengenai masalah antara PTFI dengan pemerintah sebenarnya bukanlah masalah baru. Semoga saja semua permasalahan yang ada bisa segera berakhir dan mendapat solusi terbaik untuk semua pihak.

Untuk teman-teman yang juga punya keluarga atau kerabat di sana, mace-mace, pace-pace, mari tong berdoa saja sama Tuhan, memang keputusan ada di tangan pengambil kebijakan tapi yang paling berkuasa di atas bumi ini cuma Allah. Senyum!

sd_1

“Allah tidak akan mengambil sesuatu darimu kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Informasi dan foto diambil berbagai sumber, insya Allah valid 🙂

Sharing is caring!

Mengenal ‘Pacaran’ Lebih Jauh

danbo_by_ravi435sag-d6gflet.jpg

Pacaran? Hmm. Pacaran itu apa sih? Untuk apa? Harus kah? Kenapa sih orang tua kita suka cerewet tentang hal ini? Termasuk artikel ini. Duh, cerewet sekali.

 

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin membahas pacaran itu apa sih?

Pacaran itu…

Menurut pendapat saya nih : “Hubungan yang dijalin oleh sepasang manusia (perempuan dan laki-laki) yang dilandasi perasaan saling suka dan sifatnya tidak sah dari segi hukum maupun agama”

Menurut pengamatan saya nih, orang yang memilih untuk pacaran itu ternyata punya beragam alasan. Ada yang ingin menjadikan pacar sebagai motivasi belajar (katanya), ada yang mengatakan “ingin mendapatkan kasih sayang, perhatian, dll”, ada yang menjadikannya sebagai ajang untuk mengenal pasangannya lebih dalam sebelum  ke jenjang pernikahan, juga ada yang iseng alias cuma ikut-ikutan, sampai yang paling parah, mencari kesenangan.

Pacaran bisa saling menemani, saling mendukung, berbagi, saling memberi perhatian, waw, terlihat keren. Tapi itu jika dipandang dari kulit-kulitnya saja, yang kelihatan. Padahal di dalamnya? Tidak jarang ada konflik, kesedihan, amarah yang tidak terkendali, kebohongan, galau, banyak sekali.

Mengapa?

Yang pertama, karena menjalani hubungan pacaran itu tidak punya arah dan tujuan yang pasti. Prinsipnya hanya menjalani karena saling suka. Menebar janji-janji untuk masa depan, di satu pihak menanamkan harap. Akhirnya jika tidak ditepati, mengaku telah diPHP-in. Dan ternyata pada akhirnya pasangan kita  berjodoh dengan orang lain, lantas kita berseru-seru tidak terima, marah, frustasi, menangis siang-malam. Bukankah dari awal kita sendiri yang memutuskan untuk membangun hubungan yang tidak pasti itu?

Kedua, hubungan pacaran itu terlalu banyak menuntut, akhirnya membentuk karakter egois dalam diri kita. Memaksa untuk dipenuhi keinginan ini-itu, kalau tidak dipenuhi sakit hati, ngambek. Hei, kita ini siapa sih? Masih banyak urusan mereka yang lebih penting selain meladeni Tuan Putri yang banyak maunya. Lebih parahnya, malah ada yang terbalik, si cewek dituntut untuk dipenuhi keinginan si cowok, misalnya dimasakin, dicucikan pakaiannya, dibayarin makannya, dijagain kalau lagi sakit, dll. Come on girls, be smart!

Nah, jadinya bukan hanya ego saja, tapi menjadi ketergantungan dengan orang lain, bersikap berlebihan.

Ketiga, diikat dengan status pacaran membuat keduanya merasa saling memiliki, mengatur sana-sini, tidak boleh bergaul sama si ini, tidak boleh berteman sama si itu, jangan begini dan begitu. Yaampun, bahkan menikah saja belum? Kenapa harus dipusingi dengan aturan-aturan lebay semacam itu? Katanya “Aku takut kehilangan kamu, jangan tinggalin aku”, lupa bahwa kita ini milik siapa? Tuhan bisa kapan saja mengambil kita, pasangan kita, bahkan selamanya.

Dan masih banyak lagi…

Coba deh dipikir-pikir, kalau pacaran apa-apa pasti maunya ditemani pacar, diantar, trus kapan mandirinya? Hmm, yang lebih serius lagi nih coba ingat-ingat berapa kali kita berbohong selama pacaran? Dari hal-hal kecil misalnya kita ingin selalu terlihat baik di depan pasangan akhirnya berbohong (ini inspirasi dari Ustadz Sudirman) sampai hal besar seperti membohongi orang tua? Nah, yang ini fatal. Terus, berapa banyak waktu yang kita buang untuk telponan, chat-an, sampai meninggalkan kewajiban : shalat dan belajar misalnya? Ada lagi, pikir deh berapa banyak uang yang sudah dia habiskan untuk membeli bahan bakar, mengantar Si Tuan Putri kesana-kemari, membelikan ini-itu? Bagus kalo uang sendiri, kalau uang orang tua? Waduh. Makin meluas dampaknya.

Percaya deh, masih banyak hal positif yang bisa kita lakukan selain menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia ini.

Pacaran, untuk apa?

Di awal saya sudah sedikit menyinggung beberapa persepsi orang tentang tujuan pacaran ini. Eh, bahkan ada yang mengategorikan pacaran menjadi ‘pacaran serius’ dan ‘pacaran main-main’, ini aneh dan sedikit ‘lucu’. Pacaran itu cuma untuk mereka yang main-main, jadi gak ada namanya pacaran serius. Memang, beberapa pasangan terbukti ada yang mengakhiri hubungan pacarannya dengan pernikahan, tapi yang serius di sini adalah pernikahannya ‘bukan’ pacarannya. Lebih indah itu pacaran setelah nikah, itu baru serius.

Kan nggak mungkin kita menikahi seseorang tanpa mengenal orang tersebut lebih jauh? Kalau tujuan pacaran ‘hanya’ untuk mengenal calon pasangan sebelum dinikahi tanpa ada maksud lain, ini sebenarnya niat baik. Iya benar, mengenal seseorang itu penting sekali, ingin mengetahui hal-hal mendasar seperti namanya, dia hobinya apa, karakternya, keluarganya, boleh saja. Tanpa pacaran juga bisa? Lagian kalau benar-benar niatnya ingin mengenal (untuk dinikahi), masih ada cara lain yang lebih aman (khususnya umat islam) dan yang terpenting mengikuti syariat—ta’aruf. Dengan catatan, tetap mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Perlu diingat, ta’aruf prinsipnya sangat berbeda dengan pacaran, ta’aruf ini juga tidak memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melangkah ke fase selanjutnya—khitbah lalu menikah.

Kalau cinta, gimana?

Cinta seseorang terhadap lawan jenisnya itu perasaan yang sangat manusiawi, boleh-boleh saja asalkan porsinya tepat—tidak berlebihan, apalagi melebihi cinta kita kepada Tuhan. Cinta sendiri ini bersumber dari fitrah-Nya, Sang Maha Cinta. Islam adalah agama yang mengajarkan cinta dan kasih. Saya yakin semua Agama mengindahkan hal yang satu ini. Pada dasarnya, perasaan cinta adalah suci, tergantung bagaimana kita mengelola cinta itu, menjaganya agar tetap suci atau membiarkannya ternodai? Jika hawa nafsu (syahwat) yang mendominasinya, ini sungguh merusak fitrah cinta.

danbo023.jpg

Kebanyakan dari kita menganggap bahwa cinta harus disalurkan dengan hubungan yang disebut pacaran. Benarkah? Please open your mind! Cinta nggak perlu disalurkan lewat hubungan pacaran, tidak sama sekali. Ada banyak cara untuk mencintai, tergantung masing-masing pribadi, kembali lagi apakah kita ingin menjaga kesucian cinta itu atau justru menodainya? Dua pilihan paling tepat untuk mencintai seseorang yatu, menikahi atau melepaskan. Kalau memang cinta, maka menikah adalah sebuah pilihan yang bijak untuk menyikapinya, juga menjadi pembuktian cinta yang akurat.

Lalu bagaimana kalau belum siap untuk menikah? Belajarlah melepaskan. Menunggu hingga waktu yang tepat tiba, jika memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terungkap.

“Melepaskan dengan tulus sesuatu yang amat kita inginkan tidak selalu berarti kita lemah. Melainkan sebaliknya, kita sangat kuat untuk membiarkan sesuatu itu pergi. Kita sangat kuat untuk meyakini bahwa besok lusa, jika memang berjodoh, pasti akan kembali”
— Tere Liye

Sulit, bukan? Untuk mendapatkan fitrah cinta yang sesungguhnya memang butuh ‘usaha lebih’ dibanding dengan cinta yang sembarangan. Jangan buru-buru merusak jalan ceritanya yang mungkin sebenarnya indah. Meyakini bahwa semua kejadian telah digariskan oleh-Nya, maka kemudahan akan senantiasa mengikuti langkah kaki kita, juga ketenangan hati. Jangan lupa menyibukkan diri untuk terus berbuat kebaikan, menebar manfaat, demi menapaki ribuan anak tangga menuju kebahagiaan. Menjemputnya dengan cara yang Indah.

Kalau akhirnya dia nggak kembali gimana? Sia-sia dong menunggunya? Sederhana saja jawabannya, berarti dia bukan jodoh kita, berarti perubahan baik kita lebih pantas untuk orang lain yang bisa jadi juga sedang memantaskan diri di sana, untuk kita.

Pacaran boleh nggak sih?

Kita telah banyak berbicara tentang pacaran, dilihat dari segi moral dan benefitnya, pacaran sangat tidak dianjurkan. Pacaran membentuk mental yang lemah bagi pelakunya. Lalu, bagaimana jika ditinjau dari hukum agama? Saya akan membahas ini menurut kacamata Islam.

Al-Qur’an dan Hadits secara tegas menolak dan mengharamkan pacaran :

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”
—QS Al-Isra’ : 32

Terkadang ada yang sedikit sensi jika pacaran disandingkan dengan ayat ini, katanya gini “Emang pacaran ngapain? Nggak selamanya pacaran mesum kali!”

Kata zina di sini memang berarti perbuatan yang melanggar aturan dalam Islam, yaitu maaf berhubungan intim dengan pasangan yang belum sah secara hukum agama. Zina di sini bermula dari zina mata, zina hati, zina pikiran, dsb.

Saya tidak pernah mengasumsikan bahwa pacaran adalah melulu berbuat mesum, karena memang ada juga yang berpacaran dan bebas dari perbuatan senonoh ini. Tapi di ayat tersebut Allah menegaskan kita untuk ‘menjauhi’ perbuatan ini, maksudnya adalah pacaran di sini bisa saja menjerumuskan seseorang ke dalam jurang zina, walaupun sebenarnya tidak berniat melakukannya. Karna syaithan akan selalu setia pada janjinya, menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan. Naudzubillahi min dzalik.

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahramnya”
—HR. Ahmad no 15734

Nah, sudah jelas bukan? Pacaran dalam hukum Islam ini tidak dibolehkan.

Single? It’s okay

Kalau ditanya, saya sendiri pernah pacaran tidak sih? Jawabannya “Ya, pernah”. Haaah?? Iya, tapi itu dulu, sebelum saya banyak belajar. Menyesal? Tentu. Teringat betapa banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia, yang mungkin jika diisi dengan kebaikan akan menghasilkan tumpukan karya. Sewajar-wajarnya hubungan yang saya bangun, secerdas apapun saya membentengi diri saya saat pacaran, tetap saja namanya pacaran, tetap saja Allah tak suka, tetap saja tercatat sebagai keburukan di sisi-Nya. Astagfirullah.

Penyesalan itu bak mengiris-iris hati, meyakitkan sekali. Tapi berlarut-larut di dalamnya, bukan pilihan yang tepat untuk saya lakukan saat ini. Di balik itu saya sangat bersyukur karena telah disadarkan sesadar-sadarnya. Dari sana saya memetik sebuah pelajaran berharga, menjadikan ini sebagai momen yang tepat untuk berbenah diri, belajar dari kesalahan.

“Now, I have to leave you for the shake of ALLAH”

—KDKD

9_Danbo-sang-Seniman.jpg

Tidak mudah awalnya untuk benar-benar meninggalkan zona comfort yang sudah saya bangun. Butuh proses untuk keluar dari sana, butuh perlawanan, sekali lagi ini tidak mudah, menahan diri, mengendalikan perasaan, yang terpenting adalah kesabaran dan kemauan yang kuat. Pelan-pelan saya meluruskan niat, mendekatkan diri kepada-Nya. Everything is hard before it’s easy. Akhirnya, setelah bersusah payah, sisanya akan terasa lebih mudah.

Oh iya, saya merasa lebih baik setelah meninggalkan pacaran. Ini serius, saya bisa merasakan banyak perubahan positif dalam diri saya. Menjadi lebih mandiri, sabar, lebih dewasa, juga tidak ada halangan lagi untuk mengukir prestasi, pun hubungan dengan keluarga, sahabat, dan Tuhan, terasa semakin dekat. Satu lagi, saya masih hidup, kan?

Jadi, bukan berarti jika kita memiliki hari kemarin yang suram, lantas kita tetap diam di sana tanpa melangkah sedikitpun. Boleh saja kita menoleh ke belakang, namun bukan untuk menjadi bagian dari masa lalu itu, melainkan menjadikannya sebagai alaram pengingat bagi kita. Bukankah manusia itu sumber kesalahan dan lupa?

Sudah menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.

Makassar, 29 Oktober 2016

Resensi : Matahari – Tere Liye

sinopsis-novel-matahari-karya-tere-liye

Matahari. Novel ketiga dari serial Bumi ini benar-benar berhasil memikat saya. Menariknya, jika pada kedua buku pendahulunya penulis lebih banyak menonjolkan Raib dan Seli dengan kekuatan yang mereka punya, kini penulis juga banyak mengekspos tokoh Ali. Ini membuat penokohan ketiganya menjadi sama-sama kuat.

Awalnya saya mengira jalan cerita novel ini akan mirip-mirip dengan novel Bumi dan Bulan, tapi ternyata tidak. Matahari banyak memberikan kejutan, ceritanya lebih fresh.

Ali! Kini namanya sedang disebut-sebut oleh anak-anak satu sekolah. Entah kenapa sepulang dari liburan mereka di Klan Matahari, Ali mendadak lihai dalam bermain basket. Padahal sebelumnya? Jangankan prestasi di luar kelas, Ali bahkan selalu dikeluarkan dari ruang kelas karena tidak mengerjakan PR, anak sekelasnya pasti tahu tabiat Ali yang pemalas—lebih tepatnya malas tahu, tidak peduli. Penampilannya pun tidak pernah menarik. Meski dibalik itu, tidak banyak yang tahu, Ali sebenarnya anak yang genius. Tapi kehidupan sekolah baginya sangat membosankan. Ia lebih menyukai basement-nya, tempat ia bebas bereksperimen.

Sejak mengenal dunia paralel, Ali merasa kehidupannya menjadi lebih seru. Berkunjung ke Klan Bulan dan Klan Matahari saja baginya tidak cukup. Ali selalu bersemangat membuka tabung ajaib pemberian Av, berisi segala informasi dan teknologi dari berbagai klan. Ia mencaritahu tentang Klan Bintang—klan terjauh yang pernah ada, bahkan keberadaannya sekarang masih misterius, beberapa menganggapnya telah lenyap. Raib dan Seli tegas menolak ide gila Ali yang ingin mengunjungi Klan Bintang dengan Buku Kehidupan, itu jelas telah melanggar janji Raib kepada Av dan Miss Selena. Tapi bukan Ali namanya jika ia tidak bisa menemukan cara lain mengunjungi klan itu. Ia bahkan menciptakan sebuah kapsul khusus untuk menemani perjalanan mereka ke sana, ILY—begitu ia menyebut kapsul canggih buatannya.

Dengan ILY, Ali berusaha meyakinkan Raib dan Seli. Mereka akan aman berada di dalam kapsul tercanggih gabungan teknologi Klan Bulan dan Klan Matahari itu. Hingga akhirnya mereka benar-benar melakukan perjalanan fisik mengunjungi Klan Bintang melewati lorong-lorong kuno di perut bumi!

Ah menarik sekali!

Siapa sangka, hipotesis Ali ternyata benar. Mereka berhasil menemukan klan dengan peradaban paling maju itu, meski harus melalui berbagai rintangan dalam perjalanannya.

Di Klan Bintang mereka berkenalan dengan beberapa nama baru. Ada Faar pemilik lembah yang ramah, juga merupakan keturunan Klan Bulan. Faar menceritakan banyak hal tentang Klan Bintang. Juga ada Marsekal Laar, adalah sahabat lama Faar, pemimpin salah satu Armada Kota Zaramaraz—Ibu Kota Klan Bintang. Melalui Marsekal Laar, mereka akhirnya tahu  klan ini tidak sedamai yang mereka pikirkan. Dewan Kota memegang penuh kekuasaan di Kota Zaramaraz, mengikat penduduk Klan Bintang dengan ribuan dekritnya, mengendalikan dengan seenaknya.

Selain itu ada Kaar dan Meer, juga sekertaris Dewan Kota yang sama-sama berpengaruh terhadap jalan cerita di novel ini.

“Mereka tidak memiliki misi apapun. Mereka hanya tiga remaja yang rasa ingin tahunya mungkin terlalu tinggi. Tapi mereka jelas tidak berbahaya bagi Klan Bintang”

 

“Tapi aku khawatir, Dewan Kota Zaramaraz tidak akan sependapat soal itu.”

— Matahari (Hal. 209)

Ya. Raib, Seli dan Ali memang tidak datang dengan misi khusus, namun mereka justru   akan membawa pulang misi penting ke klan permukaan.

“Itu berarti perang besar”

 

“Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi, Nak. Kita selalu bisa mengubah jalan cerita dengan ketulusan”

— Matahari (Hal. 389)

***

Membaca novel ini sangat menyenangkan, banyak kejutan yang disajikan dalam ceritanya. Tere Liye selalu pandai merangkai cerita dengan menghadirkan hal-hal unik di dalamnya, juga menghubungkan berbagai kejadian dengan ilmu pengetahuan, membuat novel ini menjadi tidak biasa—sangat menarik. Tema yang telah dibangun sejak awal adalah perihal petualangan, persahabatan, politik, tetap saya temukan dalam novel ini. Bahkan saya ikut berdegup menyimak pertarungan mereka yang semakin seru, taktik menyerang yang berbeda. Raib dan Seli yang semakin kuat, apalagi Ali yang tiba-tiba bisa mengeluarkan petir dan melakukan teleportasi saat bertransformasi menjadi beruang raksasa, benar-benar di luar dugaan. Kisah persahabatan mereka juga makin terasa di novel ini. Semua disajikan dengan bahasa yang ringan, tapi maknanya sangat dalam.

Novel yang ceritanya dibagi ke dalam 30 episode ini, sama seperti kedua novel sebelumnya, saya berhasil membacanya hanya kurang dari 3 hari. Alur berceritanya yang ringan dengan konflik-konfliknya yang tidak terlalu pelik, membuat saya betah mengikutinya sampai akhir.

Latar tempat yang diambil pada awal ceritanya masih di bumi, tempat mereka menjalani kehidupan normal seperti biasanya, barulah pada episode 13 penulis beralih mengambil latar di Klan Bintang.

Menilik dari novel-novel karya Tere Liye yang telah saya baca, ada banyak pesan moral yang disampaikan dari setiap cerita yang disajikan. Tak terkecuali novel Matahari ini. Membuat saya banyak tersugesti dengan hal-hal positif positif setelah membacanya. Juga menjadi banyak belajar, memahami tentang ketulusan, perjuangan dan keberanian.

“Masalah ini memang berat sekali disampaikan, tapi sekali dilakukan, sisanya menjadi ringan. Percayalah.” — Matahari (hal. 68)

Jika pada dua novel pendahulunya saya masih menemukan beberapa kekurangan, di novel ini bahkan saya hampir tidak menemukannya, terlepas dari typo yang masih bertebaran. Sepertinya novel ini cocok dengan judulnya “Matahari” ia menjadi ‘penerang’, sumber cahaya bagi Bumi dan Bulan.

Walaupun ada tajuk kecil di bagian belakang buku ini yang menerangkan bahwa ini novel remaja, saya tetap berasumsi lain.  Umur saya bahkan sudah keluar dari katagori itu, tapi tetap jatuh cinta tuh sama novel serial ini. Pokoknya siapapun harus mencoba sensasi petualangan ketiga sahabat ini, para penjelajah dunia paralel!

Awalnya saya mengira Matahari akan menjadi pentup kisah petualangan mereka, ternyata masih ada Bintang yang menunggu untuk terbit. I can’t wait! Semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Bagaimana nasib keempat klan ini selanjutnya?

“Hidup ini adalah petualangan. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik.”—Matahari (Hal. 362)

Judul             : Matahari

Penulis            : Tere Liye

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Terbit             :  Juli 2016

Harga             : 75.000

Ukuran           : 13.5 x 20 cm

Tebal             : 400 hlm

ISBN               :  978-602-03-3211-6

Resensi : Bulan – Tere Liye

novel_bulan__new_cover____tere_liye

Ra, Seli dan Ali telah berualang seru di Klan Bulan, mereka akhirnya bisa menyelamatkan Miss Selena dari sanderaan Tamus. Kemudian melalui Buku Kehidupan (buku matematika Ra), tiga sekawan ini dibawa kembali ke Bumi dengan catatan mereka harus menjalani kehidupan seperti anak normal lainnya sampai Miss Selena kembali dari Klan Bulan.

Mereka disibukkan dengan rutinitas masing-masing, sekolah, mengerjakan tugas-tugas rumah, mengikuti kegiatan Klub Menulis, dan Ali, sibuk dengan penelitian dan alat-alat terbaru buatannya.

Enam bulan berlalu, Miss Selena akhirnya pulang membawa banyak informasi, juga sebuah misi penting yang mengharuskan mereka pergi ke klan Matahari untuk mengadakan diplomasi antara Klan Bulan dan Klan Matahari. Miss Selena, Av, dan Ily ikut serta dalam perjalanan ini.

Tapi di luar dugaan. Setibanya di sana, tepat saat ceremonial pembukaan Festival Bunga Matahari di Kota Ilios, mereka diminta untuk menjadi kontingen ke-10 festival tersebut. Kompetisi menemukan bunga matahari pertama yang mekar—kompetisi paling mematikan Klan Matahari.

Bukan hal mudah, tidak ada yang tahu persis di mana bunga matahari akan mekar. 9 hari ke depan, melawan 9 kontingen lain yang lebih terlatih dan tangguh. Sangat kecil kemungkinan mereka akan menang. Namun demi kelancaran diplomasi antara kedua Klan ini, juga semangat yang tulus, Ra dan kawan-kawan memberanikan diri  mengikuti festival tersebut, anggota mereka bertambah satu, Ily—putra sulung Ilo dan Vey.

Melalui perjalanan yang panjang dan sulit, mereka mengelilingi negeri Klan matahari, menghadapi hewan-hewan buas, burung pemakan daging, melawan monster, melewati ladang jamur beracun, melawan tumpahnya air bah, juga bertarung bersama tikus-tikus raksasa bawah tanah.

9 hari berlalu dengan sangat melelahkan dan penuh suka duka. Bunga itu telah mekar. Festival Bunga Matahari berakhir.

Tapi aku salah besar karena sebenarnya justru “kompetisi yang sesungguhnya” baru saja dimulai—Raib

Ya, di bawah terpaan sinar matahari pagi yang lembut, di tempat bunga matahari itu ditemukan, pertarungan kembali pecah, kali ini melawan ketua konsil Fala-tara-tana IV yang tamak akan kekuasaan.

***

Sudah saya bilang, tidak perlu menunggu setahun lebih untuk membaca sekuel Bumi. Hari ini saya kembali menulis resensi buku kedua dari serial Bumi, Bulan.  Hehe

Setelah menamatkan novel Bumi beberapa hari lalu, dengan endingnya yang menggantung, muncul banyak pertanyaan dalam benak saya. Perihal bagaimana cara mereka kembali ke rumah? Bagaimana tanggapan keluarga mereka setelah menghilang dua hari? Apa misi mereka selanjutnya? Bagaimana dengan Tamus, apa ia bisa keluar dari Penjara Bayangan di Bawah Bayangan? Nah, buku Bulan ini sedikit banyak telah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Di buku kedua ini penulis masih menggunakan sudut pandang yang sama, Raib.. Alurnya runut, meski ritmenya agak lambat. Saya sempat bosan membacanya di pertengahan. Tapi tidak berlangsung lama. Penulis memang pandai menggugah rasa penasaran pembaca, setelah itu banyak disajikan konflik yang membuat saya kembali bersemangat membacanya. Saya berhasil melalap buku setebal 400 halaman ini dalam satu hari.

Jika boleh menilai, minus pada buku ini hanyalah kurangnya penulis mengekspos tokoh Seli. Padahal setting novel kali ini kebanyakan di Klan Matahari, tanah leluhur Seli. Di sini tetap saja penulis menonjolkan tokoh Raib, menjadikannya sebagai kapten kontingen. Menurutku akan lebih seru jika Seli yang menjadi kaptennya. Tapi saya yakin hal ini pasti ada alasannya, mungkin saja penulis tidak ingin mengaburkan karakter tokoh Seli yang sudah dibangun dari novel Bumi.

Selebihnya, novel ini sangat pantas mendapat pujian. Banyak hal-hal unik dan mengejutkan disajikan dalam novel bergenre fantasi ini. Uniknya, cerita yang dibangun dalam novel serial ini bukan hanya imajinasi semata, tapi dapat dijelaskan secara ilmiah, penulis menyampaikan hal ini melalui tokoh Ali.

Juga yang saya suka, ciri khas Tere Liye yang selalu menyelipkan kata-kata bijak di novel-novelnya, sehingga banyak pesan-pesan moral yang didapatkan setelah membaca novel ini, tersirat maupun tersurat.

Kali ini endingnya tidak menggantung sepeti pada novel Bumi. Tapi tetap saja saya penasaran dengan lanjutan ceritanya😂 tanpa jeda, saya langsung membaca novel selanjutnya. Matahari

Judul     : Bulan

Penulis : Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit    :  Maret 2015

Harga    : 74.000

Ukuran : 13.5 x 20 cm

Tebal     : 400 hlm

ISBN      :  978-602-03-3294-9

 

Holiday II : Rimba Papua Hotel

Lagi-lagi berlibur ke Timika? Tidak bosan apa? Haha jawabannya adalah “sama sekali tidak”. Sudah saya bilang, ini destinasi wisata paling utamaku kalau liburan. Memang, tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi, sedikit sekali malah. Tapi justru, bisa jadi tempat-tempat inilah yang belum tentu ada di kota-kota lain. Salah satunya ya, Hotel Rimba Papua ini. Limited edition, cuma di Timika! 😀

Hampir dua minggu saya menghabsikan waktu libur di Timika, berkunjung ke rumah sanak saudara, bertemu teman-teman lama dan ngumpul bersama keluarga di rumah. Waktu melesat tidak terasa, dua hari lagi saya harus pulang. Rutinitas akan kembali menyapa.

Demi memanfaatkan sisa-sisa waktu yang tidak banyak itu, alhamdulillah diberi kesempatan nginap di RPH—mencari suasana baru. Hanya sehari, tapi itu cukup.

PERJALANAN RUMAH-HOTEL

Pukul 12.00 WIT, dengan berbekal tas ransel berukuran tanggung, saya, ayah dan dua adik saya siap meluncur ke sana. Jaraknya sekitar 4 km dari rumah. Jalanan lengang, hanya sedikit kendaraan yang berlalu-lalang. Menyaksikan pemandangan macet di kota itu sangat langka sekali.

Perjalanan menuju ke sana awalnya sama seperti di kota-kota biasa, pemandangan rumah-rumah berjejeran di sepanjang jalan, toko kelontong, rumah makan, masjid, hingga toko oleh-oleh. Memasuki area Bandara, mulai berkurang, di sebelah kiri ada hamparan pasir yang luas berpagar jaring-jaring kawat, sesekali kita bisa menyaksikan pesawat dari kejauhan sedang landing atau take-off. Sedangkan di sisi kanan berjejeran pohon-pohon cemara, rumput tinggi berwarna hijau hingga kekuningan, danau—sangat asri. Semakin jauh memasuki kawasan ini akan tidak ditemukan lagi hamparan pasir, hanya pepohonan dan danau di sisi kiri, gardu listrik di sisi kanan. Kemudian akan menemukan bundaran kecil di dekat check point.

Setelah melintasi bundaran, berbelok ke kanan ada sebuah danau lagi yang dikelilingi rumput-rumput hijau, dulunya disebut ‘Batu Tiga’ penduduk memberi nama seperti itu karena di pinggir danau  ini ada beberapa tumpukan tiga batu besar, entah sudah dipindahkan kemana, kawasan ini dijaga ketat sekarang. Selanjutnya, hanya akan ada pepohonan di kedua sisi. Semakin tidak terasa terik matahari, sejuk sekali.

Kami sampai 20 menit kemudian. Sesuai dengan namanya ‘Rimba papua’, hotel ini persis berada di tengah-tengah hutan! Jauh dari pemukiman warga.

rimba-papua_ge

sumber: google.com

Dari parkiran, kami berjalan kaki kecil menuju front office hotel, saya suka sekali pemandangannya. Hamparan rumput hijau berbukit kecil, pohon-pohon dan tanaman hias yang tertata rapi, juga lampu-lampu jalan akan ditemukan setiap 3 meter—bentuknya seperti jamur. Terus melewati jalan setapak, ada jembatan kecil dengan empat tiang dan atap jerami diselimuti bunga-bunga terompet berwarna kuning terang, menggantung cantik.

Semakin dekat dengan tujuan, terdengar gemercik air lembut, tepat di depan Loby hotel ini ada  air mancur, tiga patung asmat berdiri gagah di tengah kolam. Kami  langsung disambut ramah oleh petugas yang berjaga didepan pintu, mempersilakan masuk.

INTERIOR HOTEL

Saya duduk di kursi rotan panjang dengan bantalan busa yang empuk persis di depan reseptionist. Sambil menunggu proses check-in, mata saya sibuk menelusuri setiap sudut ruangan. Di depan saya ada dua buah tangga bermaterial kayu, bentuknya simetris. Di antaranya diletakkan pot bunga besar. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambar di sini.

Setelah proses check-in selesai, kami diantar oleh petugas hotel menuju kamar, menaiki tangga sebelah kanan. Persis di puncak tangga, kami disambut dengan beberapa patung asmat nan artistik juga beberapa lukisan khas suku Papua. Mengikuti langkah petugas, kami berbelok dan menuruni tangga kecil, ada dua lorong, petugas mengarahkan ke kanan. Lorong ini berlantai kayu dengan window screen di sepanjang lorong membuat kami bisa menikmati pemandangan saat melintasinya. Kemudian ada pintu penghubung ke sebuah ruangan, di ruangan ini ada beberapa kamar dan sebuah tangga di sebelah kiri juga vas bunga, kami terus berjalan. Eh ada lorong lagi, diujung lorong itu lagi-lagi ada pintu penghubung, ruangan dengan tangga di sebelah kiri, vas bunga dan beberapa kamar—sama persis seperti lorong sebelumnya. Begitu seterusnya. Bangunan hotel ini sepertinya didesain simetris. Mungkin kalau tadi kami menuju lorong sebelah kiri, modelnya akan sama persis.

Setelah melintasi lorong-kamar-lorong-kamar, akhirnya petugas itu berhenti di sebuah kamar sebelah kanan—dekat dengan pintu keluar, saya lupa nomor kamarnya. Oh iya, hotel ini menggunakan cardlock, jadi kuncinya tidak terlihat seperti kunci pada umumnya, melainkan berbentuk seperti kartu atm—kunci elektronik.

2059

Memasuki ruangan, wajah saya diterpa udara hangat. Yang pertama kali ditemukan adalah sebuah lemari pakaian yang menyatu dengan dinding di sisi kiri lagi-lagi bermaterial kayu, iseng membuka lemari ternyata di dalamnya disediakan beberapa handuk, sendal, meja setrika lengkap dengan setrika uap, dan beberapa hanger. Sejajar dengan itu ada pintu kamar mandi. Di sisi kanan hanya ada dinding bermaterial batu alam.

Saya melewati pintu penghubung, baru akan terasa udara sejuk. Ada sebuah tempat tidur jenis double bad, dengan meja kecil di kedua sisinya. Dinding dan plafon yang didominasi warna cream, lantai kayu berwarna gold, sera terpaan cahaya lampu kuning lembut menambah kesan homey, nyaman sekali. Belum lagi di setiap sisi dindingnya diberi hiasan khas suku Asmat dan Kamoro—mempercantik tampilan ruangan.

2107.JPG

Menuju ke balcon hotel, ada dua kursi berbentuk setengah lingkaran dan satu meja bundar di tengah, juga vas bunga. Di sekeliling balcon dipasangi trail jaring yang terbuat dari aluminium, warnanya coklat gelap. Memandang ke luar, mata saya disuguhi pemandangan kolam renang (pool view) dari atas balcon.

2105

Nyaman sekali untuk bersantai, apalagi balcon ini dilengkapi music player, ada port USBnya pula. Jadi bisa dihubungkan ke handphone atau flashdisk.

Ruangan antara balcon dan kamar tidur ini dipisahkan oleh dua buah pintu kaca dengan tirai coklat muda menjuntai.

Yang menjadi favorit saya adalah sebuah meja berukuran sekitar 1×2 meter di sudut kamar, seperti meja kerja. Di atasnya ada  album “Guest Service Directory” yang berisi informasi mulai dari jadwal check-out, jam buka kolam, laundry, restaurant, no telepon penting hotel, hingga informasi arah kiblat, semua akan ditemukan di sana. Ini dia salah satu halaman yang sempat saya foto, kebetulan di bagian menu makanan 😀

2082

Nah, di sebelah buku ini ada telepon dan sebuah lampu hitam setinggi setengah meter. Meja ini bersimpulan dengan cermin besar menyatu dengan dinding, menambah kesan luas ruangan. Waktu pertama melihat saya sampai keliru, mengira ada ruangan  lain di sana, ternyata hanya pantulan cermin.

20672065

Saya tidak tahu persis itu kamar tipe apa. Superior, Executive, atau Deluxe kah? Entahlah, saya kurang paham masalah ini.

Konstruksi hotel ini didominasi dengan material kayu dan batu alam. Membuat suasananya semakin natural. Hotel yang dibangun di atas tanah seluas 60 hektar ini sangat dekat dengan alam, dikelilingi hutan dan hamparan rumput hijau nan indah. Menambah kental gaya country-nya.

SWIMMING POOL

Melangkah ke eksterior hotel, dengan lanscape yang luas dan tertata dengan baik, di sana ada beberapa fasilitas yang disediakan, seperti taman bermain, gazebo, dan yang menarik perhatian pengunjung tentunya kolam renang.

Kolam renang ini didesain sangat natural. Berbeda dengan bentuk kolam renang pada umumnya, kolam renang ini bentuknya berkelok, dikelilingi pohon kelapa dan beberapa tumpukan batu besar. Juga disediakan kursi-kursi santai di tepi kolam. Bisa dibilang ini kolam renang rasa pantai 😀 keren lah.

1171

1166.JPGPelayanannya pun sangat baik. Juga kalau lapar, di dekat kolam ini ada restaurant, di sana pengunjung bisa memesan makanan atau minuman. Menunya beragam, mulai dari dessert, makanan berat, camilan, jus, dll. Waktu itu sy pesan nasi goreng + orange juice, yang lain kentang goreng, milk shake, ice cappucino. Harganya standar lah (soalnya bukan saya yang bayar) haha.

2061.JPG

Saking asyiknya berenang, sampai lupa waktu. Si om yang berjaga di kolam mengingatkan kalau pengunjung yang bisa berenang hanya yang terdaftar nginap di hotel. Sedangkan waktu itu kami sudah checkout. Hihi maaf ya om. Padahal saya tau loh aturan ini😆

2060

Ah, tempat ini, walaupun sudah beberapa kali berkunjung tetap saja tidak bosan, pengen datang lagi dan lagi.

Sebenarnya masih banyak fasilitas yang di sediakan di tempat ini. Tapi sepertinya cerita saya sudah cukup panjang 😀

Sampai ketemu lagi di next post!

Holiday Part I : Merayakan Idul Fitri di Atas Pesawat?

Di tempat praktik, kami diberi waktu dua minggu untuk libur lebaran. Ini memang sudah disepakati pihak puskesmas dan pihak kampus, kami tetap libur mengikut kalender akademik—tanggal 4 sampai 17 Juli 2016 . Waktu dua minggu jika  dihabiskan bersama keluarga rasanya singkat sekali, bukan?  Tapi mengingat mahasiswa praktik dari kampus lain hanya mendapat jatah libur satu minggu, saya urung untuk mengeluh.

Jauh-jauh hari sebelum liburan, ibu sudah menanyakan. Mau pulang? Saya menjawab dengan ragu, “Tidak”. Itu keputusan singkat dari saya, mengingat belum lama rasanya saya pulang, bulan Februari lalu saya sempat ‘mencuri waktu’ untuk pulang merayakan pesta pernikahan kakak sulung saya. Tapi setelah itu saya justru berpikir panjang berhari-hari. Membayangkan, merayakan Idul Fitri tanpa mereka? Rasanya berat sekali.

Setelah beberapa hari menimbang-nimbang. Tepat dua hari sebelum hari libur, seingat saya hari Sabtu (2 Juli 2016) akhirnya saya meralat jawaban “Tidak” menjadi  “Ya”. Ibu tidak banyak komentar, jawabannya singkat “Ibu memang mau Imi liburan di sini”. Ah, saya mengerti betul sifat beliau, tidak pernah memaksakan apapun keinginan anaknya. Tapi saya tidak berharap banyak, ini memang kesalahan saya yang memberikan keputusan dadakan dua hari sebelum waku libur, mepet sekali. bukankah di moment liburan itu sheet pesawat selalu full booked? Bisa-bisa saya mendapat tiket kosong tepat saat hari lebaran? Aaah tidak tidak.

Satu hari setelah saya meralat jawaban, Ibu memberi kabar bilang sudah melakukan reservasi tiket. “Imi berangkat tanggal 5, cuma itu yang kosong”. Alhamdulillah saya sedikit lega, setidaknya bukan tanggal 6 Juli atau 1 Syawal menurut kalender Hijriah.

Hanya segitu informasinya, saya belum diberi itinerary details tiketnya, “Insha Allah besok pagi baru dikirimkan tiketnya, kemungkinan berangkat malam seperti biasa, jadi siapkan semuanya yang mau dibawa. Besok jam 11 malam langsung ke bandara”. Saat itu saya langsung berkemas, mempersiapkan perjalanan. Itu belum pasti, bisa saja tiketnya cancel atau berpindah jadwal, saya sudah siap menerima kemungkinan-kemungkinan itu.

Ke esokan harinya, saya dikirimi soft file tiket yang dijanjikan via email, sejak pagi saya tunggu.  Saya baru dikirimi saat sudah sore. Segera saya membukanya setelah menerima pesan singkat dari ibu “itu sudah dikirimkan tiketnya”. Ah bahagia bukan main. Tapi saat membuka email, memperhatikan lamat-lamat layar gadget saya, bertanya dalam hati, berangkat jam 12 siang waktu Makassar? Sedikit aneh, mengingat jadwal keberangkatan maskapai ini saya hafal sekali. Hanya ada pagi, sore, dan tengah malam. Awalnya saya santai “Mungkin ada perubahan. Tidak selamanya selalu sama” jawabku dalam hati.

Tapi tidak, saya kembali memperhatikan kolom departing : Timika (TIM) dan arriving : Makassar (UPG)? Astaga, petugasnya keliru mengimput rute perjalanan. Bagaimana ini? Waktunya sudah sangat mepet. Cepat-cepat saya memberi tahu ibu, menghubungi pihak maskapai tapi tidak pernah ada jawaban, berkali-kali tetap tidak ada. Sampai saya capek sendiri, pasrah. Kalau jadwalnya tepat, saya akan berangkat malam. “Mungkin bukan masalah besar. Hanya salah input” saya bergumam—membesarkan hati. Pukul 23.00 seperti jadwal biasa, saya pergi ke bandara Sultan Hasanuddin ditemani kakak sepupu—memastikan.

Setelah berbicara dengan petugas maksapai, saya memberikan print out tiket. Terlihat di dalam ruang kedap suara, seorang petugas meraih daftar nama penumpang yang akan berangkat malam itu, mencari nama saya, tidak ada di sana. Ia kembali mengulang dari awal, kali ini mencocokkan kode booking, sama saja—nihil. Ia meraih gagang telepon di sebelahnya, entah menghubungi siapa. Sebelum petugas itu memberitahu pun, saya sudah tahu jawabannya.

“Mohon maaf. Penumpang atas nama (menyebutkan nama lengkap saya) tidak ada dalam daftar nama penumpang malam ini. Sepertinya petugas di sana memang salah memasukkan data. Tapi coba kembali hubungi petugas di sana, besok ada jadwal keberangkatan pagi-pagi. Kalau cepat melakukan konfirmasi, kemungkin bisa bisa ikut keberangkatan itu, jika masih ada kursi yang kosong. Itu juga masih ada perubahan jadwal karena bla bla bla”. Kurang lebih petugasnya bilang begitu. Wajah saya terlipat seketika. Sudahlah dari awal saya sudah memikirkan kemungkinan ini. Kalaupun tidak jadi berangkat kan masih ada kakek dan keluarga lain di sini.

Kami memutuskan untuk pulang. Saya memberitahu ibu kalau tidak jadi berangkat, dan mengulang perkataan petugas bandara. Kasihan juga sih, ibu harus pergi ke bandara pagi-pagi buta untuk mengurus ini.

Saya sempat terdidur. Tapi kemudian dibangunkan dengan getaran handphone saya.

“Kamu ke bandara sekarang. Jam 9 pesawatnya boarding. Namamu sudah ditambahkan sama petugas”

“Iya. Iya. Saya ke bandara sekarang” jawabku semangat

Alhamdulillah saat itu lega sekali. Saya bergegas kembali, dengan kostum yang sama seperti tadi malam. Menunjukkan print out tiket terbaru kepada petugas, saya dipersilakan masuk. Menuju check-in counter. Hati saya masih was-was, pikiran saya penuh dengan kemungkinan jawaban petugas check-in counter nantinya—dari yang paling baik sampai paling buruk. Jangan-jangan petugasnya bilang “Maaf, mba. Namanya tidak ada”. Ahh, semoga tidak.

“Selamat pagi” petugas menyebutkan nama maskapai memastikan saya tidak salah counter

“Iya” saya membalas tersenyum

Kemudian ia meminta identitas, print out tiket dan nomor handphone. Menunggu sekitar 5 menit. Sepertinya petugas yang mengecek validity tiket terlihat kebingungan, menatap lamat-lamat monitor di depannya, kemudian mencocokkan dengan identitas dan tiket yang saya berikan. Ya Allah. Apa lagi ini?

Kemudian seorang petugas lain yang juga menyadari, menghampiri rekannya

“Kenapa?”

“Tidak ada nomor booking yang sesuai”

“Oh, iya. Memang baru ditambahkan namanya.”

Saya menarik nafas panjang—ini puncaknya rasa lega. Saat itu juga pertugas menyerahkan boarding pass menukarnya dengan airport tax yang saya berikan, saya segera beranjak dari check-in counter.

“Nyaris saja saya lebaran di pesawat! Huhh” saya tertawa sendiri. Tepatnya menertawakan diri sendiri.

Urusan mengambil keputusan memang tidak mudah. Selain tepat, juga harus cepat. Terlambat sedikit saja, runyam jadinya — Izmi.A

Resensi : Bumi – Tere Liye

1770134_ee4bfe83-9c6d-4843-b80f-287870b6a4ee.jpg

Dua anak perempuan berusia 15 tahun, Raib (dipanggil Ra) dan Seli, mereka sama-sama memiliki kekuatan menakjubkan namun saling menyembunyikannya satu sama lain, serta Ali si genius yang menyebalkan—teman kelas Raib dan Seli. Peristiwa gardu listrik yang meledak mempertemukan mereka di Aula sekolah. Ra dan Seli adalah sepasang sahabat yang tak pernah akur dengan Ali, tapi setelah kejadian mengerikan itu, semuanya berubah. Tepatnya saat pertarungan antara mereka dengan pasukan Tamus—tokoh antagonis dalam cerita ini, pecah di Aula. Kemudian secara tiba-tiba muncul sosok perempuan membantu mereka melawan Tamus, yang tak lain adalah guru matematika mereka—Miss Selena.

Ra, Seli dan Ali dengan bantuan buku matematika Ra, dibawa ke Klan Bulan, tepatnya Kota Tishri. Kota yang bahkan namanya saja tidak pernah mereka dengar, apalagi mengunjunginya, terlihat begitu asing.

“…di Bumi, bisa jadi demikian, ada beberapa kehidupan yang berjalan di atasnya. Berjalan serempak di atasnya”—Bumi (hal. 211)

 

“Setidaknya aku sudah menyaksikan dua sisi. Sisi pertama kehidupan di Bumi seperti yang kita jalani selama ini. Sisi kedua, kota aneh ini, dan semua benda yang aneh di sekitar kita. Dua sisi itu berada di satu Bumi, berjalan tanpa saling memotong.”—Bumi (hal.212)

Mereka tidak mengerti mengapa harus dibawa ke kota aneh itu. Ternyata ada banyak rahasia penting yang harus mereka tahu. Salah satunya menyangkut Ra dan Seli—asal kekuatan yang mereka miliki.

***

Ini untuk pertama kalinya Tere Liye menulis novel triologi. Bumi adalah buku pertama dari serial “BUMI”, dua lainnya—Bulan dan Matahari. Novel bergenre fantasi ini menjadi novel kedua karya Tere Liye yang saya baca.

Cerita dibuka dengan perkenalan tokoh utama, Raib. Ia sama seperti remaja-remaja lain, kecuali satu hal— ia bisa menghilang.

“Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang”

Dua kalimat terakhir dari sinopsis ini berhasil menghipnotis saya, huffff. Tere Liye memang piawai dalam hal ini.

Diksi yang tepat membuat pembaca dengan mudah bisa memvisualkan segala yang digambarkan dalam novel ini, tenggelam bersama imajinasi yang dibangun penulis. Saat membacanya seolah-olah saya sedang bersama Ra, Seli dan Ali di Kota Tishri, berpetualang bersama mereka. Seru, menyenangkan, menegangkan. Ali yang teoritis—ide briliannya acap kali berlandaskan teori-teori fisika maupun biologi, menambah unsur ilmiah dalam novel ini. Fantasi berpadu dengan sci-fi. Menarik, bukan?

Mengingat cerita ini belum tuntas, saya enggan berkomentar lebih, meski banyak sekali pertanyaan yang muncul. Mungkin Bulan dan Matahari yang akan menjawab 😀

Oh iya, novel ini sebenarnya sudah terbit sejak  Januari 2014. Jadi saya baru membacanya setelah 2 tahun buku ini terbit. Bumi yang saya punya adalah cetakan ke-12, entah buku keberapa ribu 😀  hikmahnya, saya tidak perlu merasa digantungin selama setahun lebih untuk menunggu sekuelnya, yes :p

 

Judul Buku    : Bumi

Penulis            : Tere Liye

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit             : 2014

Tebal              : 440 hlm; 20 cm

Harga             : 70.000

ISBN               : 978-602-03-3295-6

Resensi : Hujan – Tere Liye

 

Blurb :

Tentang Persahabatan

Tentang Cinta

Tentang Melupakan

Tentang Perpisahan

Tentang Hujan

***

Hujan mengisahkan tentang seorang gadis bernama Lail yang sedari kecil begitu mencintai hujan, sosok Esok lelaki yang telah menyelamatkan Lail, Maryam si rambut kribo sahabat terbaik Lail, dan Claudia adik angkat Esok sekaligus perempuan yang pertama kali berhasil membuat Lail cemburu. Mereka hidup di zaman serba canggih, berlatar dunia tahun 2050-an, teknologi mutakhir digunakan dimana-mana, mobil terbang, transaksi tanpa lembaran uang, semua kebutuhan tersedia di atas hologram, baju dan kue dapat dibuat semudah mencetak dokumen, hingga mesin modifikasi otak yang sedang digunakan Lail untuk melupakan memori menyakitkan dalam hidupnya selama 8 tahun terakhir.

21 Mei 2042, kejadian yang tak pernah terlupakan oleh penduduk bumi. Bencana alam letusan gunung berapi skala 8 VEI mengakibatkan gempa berkekuatan 10 skala richter, menghancurkan dua Benua sekaligus. Merenggut jutaan nyawa penduduk bumi, termasuk orang tua Lail dan juga keempat kakak Esok.

Satu persatu masalah bermunculan sejak kejadian itu, perubahan iklim yang ekstrem, paceklik bahan pangan, hingga terancam punahnya manusia.

Tapi, semenjak kejadian itu pula, Lail dan Esok memulai kisah mereka. Tentang persahabatan mereka, tentang perasaan saling mencintai dalam diam, tentang perpisahan, kerinduan yang tak habis termakan waktu, juga tentang perasaan cemburu yang tak pernah tersampaikan, begitu menyakitkan bagi Lail. Sesak yang semakin tak tertahankan, membulatkan keputusan Lail untuk menemui Elijah di Pusat Terapi Saraf—melakukan serangkaian terapi untuk menghapus memori menyakitkan itu. Hujan.

 

***

Romansa Lail dan Esok dengan segala konfliknya beserta bumbu-bumbu scince fiction berhasil diramu dengan baik dan sangat mengalir. Alur berceritanya yang maju-mundur membuat saya tidak ingin berhenti untuk membuka lembar demi lembar hingga ceritanya usai. Walaupun ada beberapa adegan yang berhasil tertebak karena seringkali terulang, yaitu kebiasaan Esok yang selalu mengejutkan Lail—secara tiba-tiba muncul di hadapan Lail setelah lama tak ada kabar. Tapi bagiku ini tidak terlalu mengganggu, saya tetap menikmatinya. Bahkan menjadi was-was di akhir ceritanya 😂

Penggunaan bahasa oleh penulis dibuat sesederhana mungkin agar maksud dari bacaan dapat tersampaikan dengan baik, bahkan yang berbau ilmiah sekalipun.

Sudut pandang yang digunakan adalah POV 3 atau author POV—penulislah sebagai naratornya. Meski begitu, saya pribadi masih merasa sulit menebak karakter dari tokoh Esok yang tidak terlalu ditonjolkan di sini. Sebebihnya, saya puas dengan novel ini.

Kalau boleh menambahkan, cover yang digunakan berlatar biru muda dengan tajuk HUJAN berwarna putih ini sangat simple, namun seperti magnet, ia tetap berhasil menarik perhatian saya untuk menyambarnya dari rak buku bestseller. Terlebih saat saya dibuat penasaran dengan sinopsisnya yang hanya terdiri dari lima kalimat itu, cepat-cepatlah saya membawanya ke kasir 😀

Pelajaran yang bisa dipetik dari Hujan ini, adalah tentang keikhlasan dan penerimaan.

“Bukan berapa lama manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tetapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami” (hal. 317)

 

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan. (hal. 308)

Ini adalah novel pertama Tere Liye yang saya baca. Sekaligus menjadi awal perkenalan saya dengan karya penulis yang selalu saya ikuti fanspage-nya ini. Kisahnya mengharukan, tapi mungkin lebih cocok untuk remaja-remaja yang suka terhanyut dalam cerita-cerita manis—romance. Jujur, saya tidak terlalu fanatik dengan genre yang satu ini. Tapi dengan gaya bahasa Tere Liye yang ringan dan menyenangkan, sepertinya saya jadi tertarik untuk membaca karyanya dengan genre yang berbeda—Bumi, Bulan, Matahari. Seri novel yang mengusung tema fantasi ini, semoga berjodoh untuk membaca ketiganya.

 

Judul     : Hujan

Penulis : Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit    :  Januari 2016

Harga    : 75.000 (Gramedia Mal Panakkukang ̶ Makassar)

Ukuran : 13.5 x 20 cm

Tebal     : 320 hlm

ISBN      :  978-602-03-2478-4

Saya Berlibur Ke Timika, Kamu?

Setelah setahun penuh menyibukkan diri dengan study, dipenatkan dengan tugas-tugas, presentasi, UAS, OSCE, lalu apa lagi yang lebih membahagiakan bagi mahasiswa seperti saya ini selain liburan? Ah, sepertinya tidak ada. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk pulang sehari setelah kegiatan di kampus usai. Minggu-minggu sebelumnya saya sudah menyiapkan semua yang akan dibawa, termasuk pesanan ibu dan beberapa kerabat sudah saya belikan dan saya pack rapih-rapih. Pokoknya hari itu saya siap sekali untuk pulang.

Sabtu, 11 Juli 2015. Perjalanan saya lalui dari rumah ke bandara sekitar 30 menit, kebetulan waktu itu lewat tol. Setibanya di bandara, saya langsung diantar masuk dan kemudian menuju ke counter check in salah satu maskapai yang letaknya paling kanan kalau dari pintu masuk bandara Sultan Hasanuddin (Makassar). Petugasnya kemudian menimbang bagasi satu per satu dan petugas yang lain sibuk memeriksa barang bawaan saya kemudian memberi label untuk barang yang akan disimpan di cabin pesawat. Setelah menerima boarding passnya, tanpa menunggu lagi saya langsung meninggalkan counter check in tersebut dan menuju ke ruang tunggu. Tepatnya di gate 6, duduklah saya di sebuah kursi panjang nan empuk yang masih kosong, memperhatikan sekeliling saya, menelusuri setiap sudut ruangan yang nggak kecil itu. Berharap ada wajah yang familiar yang bisa ku ajak ngobrol, tapi tidak ku temukan. Sesekali saya menatap ke samping dan ke belakang. Mereka pada sibuk memainkan gadgetnya, ada juga yang tidur. Beruntung, saat itu pesawatnya on time. Setidaknya saya tidak sampai tertidur di ruang tunggu karena saking bosannya. Tepatnya pukul 10.45 WITA, pesawat boarding. Semakin tidak sabar, rasanya ingin langsung sampai saja di Mozes Kilangin.

Saat di pesawat saya tertidur pulas. Entah berapa lama saya tertidur dan akhirnya dibangunkan oleh suara seorang pramugari dan hey! saya sudah di Timika. Saya memperhatikan di luar jendela pesawat, mataku disuguhi pemandangan pepohonan yang rindang dari ketinggian, berbeda dengan kota Makassar, kita hanya akan menemukan atap-atap rumah yang begitu padat di momen-momen pesawat akan landing seperti ini.

Setelah setahun menahan diri untuk tidak pulang, akhirnya hari itu saya menginjakkan kaki lagi di kota Timika. Usai mengurus bagasi di area baggage claim dan diperiksa kelengkapannya oleh petugas, perlahan saya berjalan menuju pintu keluar sambil mendorong trolley. Seperti biasa, yang pertama kali menyambutku adalah supir-supir taksi dan tukang ojek yang menawarkan jasa transport mereka. Seolah tak merasa dikerubuti banyak orang, saya tetap santai berjalan, sementara mata saya sibuk menelusuri halaman bandara dan akhirnya kutemukan seseorang dari kejauhan tersenyum padaku, seketika saya membalas senyumannya. Ya, tidak salah lagi wanita cantik itu pasti ibuku. Kemudian di belakang ibu menyusul adik laki-lakiku yang ternyata ikut menjemput.

Sepanjang jalan menuju rumah, saya memperhatikan setiap sudut kota yang saya paham sekali tempat-tempatnya itu, belum ada yang berubah. Tidak ramai memang, tapi saya lebih suka daripada harus menghabiskan waktu di perjalanan hanya karena macet seperti di kota-kota besar pada umumnya.

Sesampainya di rumah, rasa lelahku seketika hilang ditukar dengan perasaan bahagia. Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Padahal saya sempat berpikir tidak akan pulang sampai lulus nanti, ternyata tidak. Allah memang maha penyayang😊

Kurang lebih 10 hari saya berlibur di sana. Menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Saya sempat berkunjung ke Kuala Kencana, sebuah distrik di Timika yang jaraknya sekitar 10 km dari pusat kota. Tempat yang dibangun di tengah hutan itu merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Timika. Fasilitas yang disediakan di sana cukup lengkap menurutku, ada swimming pool, shopping center, restaurant, lapangan basket, taman bermain sampai library. Waktu itu saya pergi ke sana bersama keluarga dan juga beberapa teman dekat saya sewaktu SMA. Selain ke Kuala Kencana, saya juga sempat pergi ke beberapa tempat nongkrong anak Timika, salah duanya adalah Day Cafe di Jl. Cendrawasih SP2 dan KFC. Ada dua tempat yang gagal saya kunjungi, itu RPH dan portsite (tapi saya sempat berkunjung ke RPH waktu liburan akhir tahun baru-baru ini. Hore!. Sedangkan untuk portsite, saya tidak pergi ke sana berhubung termakan hasutan ibu saya yang katanya portsite itu tempatnya berdebu dan cukup panas). Ya sudah tidak apa-apa, lagian berada di rumah lebih menyenangkan bagiku. Apalagi waktu liburnya yang terlalu singkat membuatku harus betul-betul memanfaatkan momen-momen kebersamaan di dalam rumah yang tidak bisa ku temukan di tempat lain.

Belum lama rasanya saya berada di sana, akhirnya saya harus kembali meninggalkan kota itu lagi, juga mereka. Ini yang tidak saya suka, menunggu waktu liburan rasanya lebih lama dibanding waktu libur yang saya dapat. Ini nda fair-­­_‑

Kalau orang lain mungkin memilih tempat liburan yang populer seperti Bali, saya tetap memilih Timika sebagai destinasi tempat liburanku. Karena sejauh apapun kakiku melangkah, bagian perjalanan yang paling indah tetaplah sama, pulang ke rumah!

Goodbye Timika! 🙋🏻 Semoga kita ketemu lagi.